Dalam hal ini, Hadi menilai pemerintah juga perlu membentuk regulasi dan petunjuk pelaksanaan khusus terkait dengan penggunaan bejana atau wadah kecil bertekanan tinggi agar produk CNG aman digunakan.
Selain itu, Hadi juga menyarankan agar pemerintah terlebih dahulu membuat proyek pilot (pilot project) pengembangan CNG di lingkungan yang terbatas, misalnya kabupaten atau provinsi.
Hal ini dilakukan untuk membangun peningkatan kemahiran dalam menggunakan CNG melalui pengalaman konsumen.
"Koordinasi dengan pemangku kepentingan migas baik pemerintah maupun badan usaha milik negara [BUMN] dan SKK Migas dalam penyediaan sumber gas yang kompetitif sekaligus jaringan distribusinya," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan berencana untuk mengembangkan CNG dengan tabung 3 kilogram.
Bahlil mengeklaim penggunaan CNG memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% hingga 40%, tetapi dia tak menjelaskan pembandingnya.
Klaim Bahlil lainnya adalah bahwa sejumlah industri perhotelan dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan CNG sebagai sumber api dalam proses pemasak.
“CNG ini adalah sama juga gas, tetapi dia bukan LPG, dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa [dapur] MBG-MBG. Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini cost lebih murah 30%—40%,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, Sabtu (2/5/2026).
Bahlil mengatakan kajian itu dilakukan untuk substitusi impor LPG yang menembus 7 juta ton per tahun.
Bahlil menjelaskan komposisi CNG terdiri atas C1 atau metana dan C2 atau etana, komponen tersebut banyak terkandung dalam gas bumi yang diproduksi oleh Indonesia.
Sementara itu, LPG terdiri atas propana (C3) dan butana (C4), di mana dua komponen tersebut tak begitu banyak terkandung dalam gas bumi yang diproduksi Tanah Air.
(wdh)






























