Keberadaan fasilitas ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi surya domestik secara mandiri. Hal ini sekaligus menjaga momentum transisi energi agar tetap berjalan sesuai rencana.
Hilirisasi dan Kemandirian Energi
Investasi lebih dari USD 100 juta telah digelontorkan untuk membangun fasilitas produksi terintegrasi tersebut. Langkah ini mencerminkan komitmen kuat terhadap hilirisasi industri energi di dalam negeri.
Dengan memproduksi solar cell secara domestik, Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai perakit komponen. Penguasaan teknologi inti menjadi langkah penting menuju kemandirian industri energi.
Teknologi N-type i-TOPCon Advanced yang digunakan TMAI memperkuat daya saing produk nasional di pasar global. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mencapai hingga 60 persen juga menjadi nilai tambah signifikan.
Wakil Direktur Utama PT Trina Mas Agra Indonesia, Lokita Prasetya menyampaikan bahwa TMAI berkomitmen mendukung target 100 GW PLTS melalui pembangunan pabrik terintegrasi di Kendal, yang tidak hanya meningkatkan nilai TKDN, tetapi juga memperkuat kemandirian teknologi serta posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau global.
“Kami mendukung penuh target 100 GW PLTS sebagai pendorong utama industrialisasi hijau nasional. Kehadiran pabrik terintegrasi TMAI di Kendal merupakan langkah nyata kami agar nilai tambah ekonomi dari transisi energi ini sepenuhnya dibuat dan dinikmati di dalam negeri. Melalui penguasaan teknologi sel surya dari hulu, kita tidak hanya memperkuat pencapaian TKDN yang tinggi, tetapi juga membangun kemandirian teknologi yang memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau global," ujar Lokita.
Selain memperkuat industri, keberadaan manufaktur lokal juga berkontribusi pada efisiensi rantai pasok. Produksi dalam negeri mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor dan menekan fluktuasi harga.
Skala produksi yang besar juga menciptakan efisiensi ekonomi. Hal ini penting untuk mendukung keberlanjutan proyek energi terbarukan di berbagai wilayah Indonesia.
Lokita menyoroti bahwa produksi dalam negeri mampu mempersingkat rantai logistik dan waktu pengiriman, sehingga distribusi ke daerah terpencil menjadi lebih efisien.
“Selain aspek ekonomi, manufaktur lokal berperan vital dalam memperpendek rantai logistik sehingga distribusi komponen menjadi lebih cepat dan responsif. Dengan memangkas waktu tunggu pengiriman internasional menjadi distribusi domestik yang lebih singkat, keberadaan basis produksi di dalam negeri mempermudah jangkauan ke berbagai wilayah pelosok," ungkapnya.
Kehadiran basis produksi domestik juga mendukung pemerataan akses energi. Proyek PLTS dapat lebih mudah menjangkau daerah terpencil dengan distribusi yang lebih efisien.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menghadirkan keadilan energi bagi seluruh masyarakat. Teknologi surya diharapkan dapat dinikmati secara merata dari Sabang hingga Merauke.
TMAI sendiri merupakan hasil kolaborasi antara sektor swasta dan BUMN. Perusahaan ini melibatkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, Trina Solar Co, serta PT PLN Indonesia Power Renewables.
Kolaborasi ini memastikan pengembangan industri berjalan selaras dengan kepentingan nasional. Tata kelola yang inklusif dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi bagian penting dari operasional perusahaan.
Melalui sinergi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen energi surya. Transformasi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pusat industri hijau di Asia Tenggara.
Ke depan, penguatan industri panel surya domestik diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Selain itu, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi global.
(tim)































