Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah terdalam dari banyaknya Bursa Asia yang memerah sepanjang hari, KOSPI (Korea), Hang Seng (Hong Kong), PSEi (Filipina), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), SENSEX (India), dan CSI 300 (China) yang melemah dan tertekan masing–masing 1,38%, 1,28%, 1,26%, 1,19%, 1,06%, 0,96%, 0,69%, dan 0,06%.
Sementara itu, hanya Straits Times (Singapura), Shenzhen Comp. (China), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), dan FTSE KLCI (Malaysia), berhasil menguat masing–masing 1,06%, 0,13%, 0,13%, 0,11%, dan 0,09%.
Dengan demikian, IHSG adalah indeks dengan pelemahan terdalam dan paling amblas di Asia, bersanding Bursa Saham tetangga.
Pelemahan Rupiah Bikin Berat IHSG
Investor gelisah terhadap pelemahan rupiah hari ini yang ditutup di level Rp17.353/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, setelah sempat menyentuh level terendah di Rp17.383/US$ yang merupakan level All Time Low/ ATL.
Kinerja rupiah yang amat melemah hingga melanjutkan tren negatif, terjadi ketika dolar AS bergerak stabil di level 98,691 hingga 98,961, lantaran memanasnya konflik di Timur Tengah, membuat mata uang itu jadi aset safe haven.
Pelemahan rupiah utamanya tersengat tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali mengencangkan sentimen risk–off. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk mempersiapkan perpanjangan blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Laporan Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan, dalam pertemuan dengan para penasihat senior, Trump memutuskan untuk terus menekan kemampuan ekspor minyak Iran dengan menghentikan setiap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Sejauh ini, AS terus memblokade kapal yang menuju dan meninggalkan pelabuhan Iran guna memutus pendapatan minyak negara tersebut. Di sisi lain, Iran tetap menutup selat bagi hampir semua lalu lintas kapal lainnya.
Terlebih lagi pejabat The Fed sedikit mengubah narasi dengan menyebut “perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingginya tingkat ketidakpastian prospek ekonomi,” pada pertemuan rapat kebijakan moneter terbaru mereka.
The Fed tetap mempertahankan frasa terkait “besaran dan waktu penyesuaian tambahan” terhadap suku bunga.
(fad)




























