Keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham barang baku, saham perindustrian, dan saham energi yang runtuh mencapai 3,76%, 3,21%, dan 2,77%. Menyusul saham infrastruktur, dan saham konsumen non–primer yang masing–masing melemah 2,48%, dan 2,33%.
Di sisi bersamaan dengan itu, sejumlah saham mencatat pelemahan luar biasa dan menjadi top losers. Di antaranya adalah saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) yang amblas 14,9%, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) jatuh 13,1%, dan saham PT Bank Mega Tbk (MEGA) ambruk 12,3%.
Bursa Ssham Asia juga terbenam di zona merah. Namun IHSG mengalami kejatuhan paling dalam.
Indeks KOSDAQ (Korea), SENSEX (India), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea), Hang Seng (Hong Kong), TAIEX (Taiwan), PSEi (Filipina), SETI (Thailand), FTSE KLCI (Malaysia), dan CSI 300 (China) melemah masing–masing 2,26%, 1,53%, 1,37%, 1,21%, 1,13%, 1,12%, 0,96%, 0,55%, 0,4%, 0,25%, dan 0,07%.
Rupiah All Time Low (ATL)
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang amat berat bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus lesu di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan siang hari ini di pasar spot per 13:10 WIB, US$ 1 setara dengan Rp17.380. Rupiah melemah 0,52%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terjerumus hingga menyentuh level terlemah di sesi intraday mencapai Rp17.383/US$ sekaligus merupakan All Time Low baru terhadap dolar AS.
Adapun rupiah melemah ditengarai terimbas memanasnya perang Timur Tengah yang membuat harga minyak kembali melejit.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang harga tinggi US$110,7 per barel, setelah melonjak lebih dari 13% point–to–point dalam tiga hari perdagangan, seperti yang dilihat data Bloomberg siang hari ini. Sementara itu, Brent menyentuh harga US$126,31 pada perdagangan Kamis, melejit 14% ptp.
Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal. Beban subsidi akibat kenaikan harga minyak juga diestimasikan bakal menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di US$70 per barel, sementara harga saat ini kembali bertengger di atas US$100 per barel, terlebih menembus US$120 per barel.
Sehingga setiap kenaikan minyak US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi senilai Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.
Dinamika ini membuat investor cenderung menjual aset–aset keuangan di pasar keuangan Tanah Air. Terlebih lagi pada pasar Surat Utang Negara (SUN) pada Kamis. Imbal hasil di hampir semua tenor, baik pendek, menengah dan panjang, selaras bergerak menguat, menandakan investor banyak melepas kepemilikannya dalam aset obligasi dalam negeri.
Bank Sentral Amerika Serikat (AS) rasanya turut menyebabkan bergugurannya pasar keuangan di Asia. The Fed memutuskan kembali menahan suku bunga di tengah ketidakpastian global. Hal ini semakin menegaskan kondisi perekonomian global tidak baik–baik saja dan menjadi realitas utama yang harus dihadapi seluruh negara, termasuk Indonesia.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, kondisi ini menggambarkan rupiah berada dalam fase overshooting. Kondisi ini menyeret tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.
“Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting—mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu BI menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat,” papar Fakhrul.
(fad/aji)






























