Ketika investor menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk infrastruktur AI dan pembangunan pusat data, lonjakan harga chip mendorong pertumbuhan ekspor yang sangat kuat di Asia.
Gelombang belanja tersebut juga mengerek perdagangan China, yang tahun lalu menjadi pemasok terbesar barang terkait AI di dunia. Taiwan dan Korea Selatan, dua negara pemasok utama produk AI untuk China, juga melaporkan lonjakan ekspor ke negeri tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Lonjakan impor China belakangan ini, termasuk semikonduktor dan perangkat komputasi AI, “mencerminkan permintaan nyata sekaligus kekhawatiran terhadap potensi pembatasan ekspor AS di masa depan,” ujar Direktur China Eurasia Group Dan Wang, berdasarkan transkrip pidatonya pada Forum Makroekonomi China pada April.
China daratan merupakan mitra dagang terbesar Hong Kong dan menyumbang lebih dari separuh perdagangan barang kota tersebut tahun lalu. Volume perdagangan kembali meningkat pada 2026, dengan impor dari dan ekspor ke China masing-masing melonjak 42% dan 35% dibanding kuartal I-2025.
Secara total, impor Hong Kong mencapai HK$707,5 miliar atau setara sekitar Rp1.559,75 triliun pada Maret, setara sekitar seperlima produk domestik bruto wilayah tersebut. Sementara itu, ekspor mencapai HK$618,4 miliar atau sekitar Rp1.363,33 triliun, meningkat hampir 36%, dengan pengiriman ke AS melonjak 81%, berdasarkan data pemerintah Hong Kong yang dirilis Selasa.
Pertumbuhan impor dan ekspor pada Maret tercatat lebih dari dua kali lipat dibanding perkiraan ekonom yang disurvei Bloomberg.
Zhu dari Bloomberg Economics mengatakan lonjakan perdagangan tersebut “tidak mengejutkan” mengingat banyak barang impor Hong Kong kembali diekspor ke China dan negara Asia lainnya.
Nilai impor mesin listrik dan komponennya meningkat 50% secara tahunan, sementara peralatan telekomunikasi melonjak 93%, menurut data pemerintah.
Pembelian minyak bumi dan produk turunannya meningkat 81% dalam nilai, sedangkan logam non-ferrous melonjak 404%.
Ekonom dan strategist utama Dah Sing Financial Group Gary Wan mengatakan pengalihan arus perdagangan dari Timur Tengah ke Asia, ditambah aksi penimbunan oleh perusahaan untuk mengantisipasi kenaikan biaya, menjadi pendorong utama lonjakan ekspor dan impor Hong Kong.
Survei manajer pembelian oleh S&P Global untuk Maret juga menunjukkan peningkatan besar persediaan perusahaan di Hong Kong, dengan aktivitas pembelian tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Sebagian responden mengaitkan peningkatan pembelian bahan baku dengan ekspektasi kenaikan harga dari pemasok, menurut S&P Global.
Kantor Ekonom Pemerintah Hong Kong, dalam tanggapan kepada Bloomberg News, menyebut “kenaikan signifikan nilai” impor bahan bakar serta penguatan permintaan domestik sebagai faktor pelebaran defisit perdagangan.
Namun, lembaga tersebut menilai tren itu terutama dipicu oleh “akumulasi bahan baku dan barang setengah jadi,” seiring “meningkatnya peran Hong Kong dalam menghubungkan berbagai basis manufaktur di kawasan serta tingginya ketidakpastian lingkungan perdagangan internasional.”
(bbn)






























