Pengalaman Menonton Piala Dunia dengan Tiket Rp178 Juta
Redaksi
13 June 2026 20:45

Amanda Mull
Bloomberg, Menonton pertandingan olahraga dari pinggir lapangan menawarkan sensasi yang berbeda dibanding menyaksikannya dari tribun atau layar televisi. Pasalnya, dari jarak dekat, kecepatan, kekuatan, dan kemampuan para atlet terasa jauh lebih nyata.
Namun pengalaman seperti melihat Shohei Ohtani memukul home run atau Steph Curry mencetak tiga poin dari tepi lapangan biasanya hanya bisa dinikmati mereka yang memiliki akses ke area premium.
Pengalaman itu terasa saat menyaksikan laga persahabatan Prancis melawan Brasil di Gillette Stadium, Foxborough, Massachusetts, sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia. Di luar dugaan, Kylian Mbappe tampil dan mencetak gol pembuka pada menit ke-30.
Ironisnya, momen tersebut justru terlewat karena perhatian tertuju pada fasilitas lounge premium yang berada tepat di sisi lapangan. Hal itu sejalan dengan tujuan kunjungan tersebut: membandingkan pengalaman menonton dari area terbaik dan area paling standar di stadion tuan rumah Piala Dunia.
Perbandingan itu menjadi relevan karena harga tiket kini menjadi perbincangan besar. FIFA menerapkan sistem harga dinamis yang membuat tiket sejumlah pertandingan populer menembus ribuan dolar AS, sementara kursi terbaik dijual lebih dari US$10.000 atau sekitar Rp178 juta, harga tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Piala Dunia.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut tingginya harga tiket mencerminkan karakter pasar olahraga AS. Namun banyak pihak menilai perbandingan yang ia gunakan dengan harga tiket olahraga lain di negara tersebut kurang tepat.
Meski demikian, satu hal tidak terbantahkan. Biaya menonton olahraga terus meningkat. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan harga tiket acara olahraga melonjak 123% sejak tahun 2000, jauh melampaui inflasi.
Kondisi itu membuat menonton pertandingan langsung semakin identik dengan kalangan berpenghasilan tinggi dan stadion berlomba menghadirkan fasilitas premium untuk menarik mereka.
Di Allegiant Stadium, Las Vegas, misalnya, tersedia Wynn Field Club yang menawarkan area eksklusif dekat lapangan dengan tarif mencapai puluhan ribu dolar untuk satu acara. Sementara di Miami, Kaseya Center menghadirkan klub premium yang memungkinkan pengunjung melihat pemain Miami Heat keluar-masuk ruang ganti.
Stadion modern kini tidak hanya menjual kursi, tetapi juga pengalaman. Area VIP yang dulu tersembunyi kini sengaja ditampilkan dalam siaran televisi. SoFi Stadium di Los Angeles memiliki cabana terbuka di dekat bangku pemain, sementara sejumlah stadion NFL menghadirkan lounge mewah di area end zone.
Gillette Stadium mengikuti tren tersebut melalui Bud Light Celebration Beer Hall yang dibuka pada 2023. Dari area ini, pengunjung hanya berjarak beberapa meter dari lapangan. Saat pertandingan New England Patriots berlangsung, akses ke pemain bahkan menjadi lebih dekat.
Sebelum laga Prancis melawan Brasil dimulai, legenda sepak bola Brasil Bebeto dan bintang NBA Jayson Tatum sempat menyapa para tamu di area premium tersebut.
Meski menawarkan kedekatan dengan pemain, posisi di pinggir lapangan ternyata tidak selalu menjadi tempat terbaik untuk mengikuti jalannya pertandingan. Oleh karena itu, stadion memasang layar raksasa agar pengunjung tetap bisa melihat permainan secara utuh.
Beer hall tersebut merupakan bagian dari proyek renovasi bernilai US$250 juta. Untuk mengaksesnya saat pertandingan Patriots, pemegang tiket musiman harus membayar tambahan sekitar US$5.000 per musim.
Menurut Chief Operating Officer Kraft Sports + Entertainment Jim Nolan, perilaku penonton telah berubah. Penggemar tidak lagi datang hanya untuk duduk dan menonton pertandingan, tetapi juga untuk bersosialisasi, menikmati makanan dan minuman, serta mencari pengalaman yang lebih eksklusif.
Perubahan itu terlihat di pasar tiket sekunder. Pada 2023, akses ke klub dan lounge premium hanya menyumbang 9% transaksi di platform SuiteHop, kini porsinya melonjak menjadi 38%.
Fasilitas seperti lounge juga semakin diminati generasi muda karena menawarkan suasana yang lebih santai dibanding suite korporat tradisional, namun tetap menyediakan berbagai kenyamanan seperti bar, pendingin ruangan, dan kamar mandi pribadi.
Tren ini muncul ketika semakin banyak anak muda yang tidak memiliki keterikatan dengan olahraga seperti generasi sebelumnya. Di saat yang sama, kualitas siaran televisi dan layanan streaming yang semakin baik membuat banyak orang mempertanyakan manfaat datang langsung ke stadion.
Karena itu, stadion terus mencari cara baru untuk menarik pengunjung melalui berbagai fasilitas yang tidak bisa didapatkan di rumah.
Meski demikian, daya tarik utama olahraga tetap berada di lapangan. Saat para pemain Brasil keluar dari terowongan menuju lapangan di hadapan ribuan pendukung berbaju dengan warna hijau dan kuning, alasan mengapa orang rela membayar mahal untuk berada sedekat itu menjadi lebih mudah dipahami.
Sebaliknya, ketika berpindah ke kursi yang dianggap biasa dengan harga sekitar US$89 untuk pertandingan Patriots, muncul pengalaman berbeda. Posisinya memang tinggi dan curam, tetapi justru memberikan sudut pandang yang lebih baik untuk memahami strategi dan pergerakan pemain.
Pada akhirnya, kedua pengalaman tersebut menawarkan keunggulan masing-masing, area premium menghadirkan kedekatan dan eksklusivitas, sementara tribun atas memberikan pandangan terbaik terhadap jalannya pertandingan dan atmosfer suporter.
Tidak ada jawaban pasti mengenai mana yang lebih baik, tetapi yang jelas, stadion modern kini menjual lebih dari sekadar pertandingan. Mereka menjual pengalaman.































