Sementara itu, dari pasar Surat Utang Negara (SUN) lelang yang berlangsung kemarin cenderung stagnan. Di tengah persaingan instrumen utang antara otoritas fiskal dan moneter, minat investor terhadap SUN bertenor pendek menjadi lemah.
Hal tersebut menyebabkan penawaran yang masuk dalam lelang SUN kemarin tercatat sedikit menurun menjadi Rp74,95 triliun, dari sebelumnya Rp78,49 triliun.
Seiring itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga menurunkan nilai penyerapan menjadi Rp40 triliun dari Rp42 triliun pada lelang sebelumnya. Meski demikian, rasio bid-to-cover tetap terjaga stabil di level 1,87 kali.
Hari ini, investor akan mencermati kondisi Indonesia yang tengah menghadapi tekanan pada arus kas melalui paparan APBN Kita.
Persepsi terhadap kredibilitas fiskal menjadi krusial. Jika pemerintah mampu menunjukkan ruang yang cukup untuk meredam tekanan, misalnya melalui pengelolaan subsidi energi, strategi pembiayaan yang terukur, serta disiplin defisit, maka sentimen terhadap aset domestik berpeluang membaik.
Sebaliknya, jika risiko pelebaran defisit dan peningkatan kebutuhan pembiayaan dinilai terlalu besar, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut, terutama di tengah lingkungan global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Sebagai catatan, persepsi risiko investor terhadap aset domestik masih tinggi. Hal ini tercermin dari pergerakan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun yang berada di kisaran 88–91 basis poin sepanjang April 2026.
Level tersebut memang masih menunjukkan stabilitas relatif jika dibandingkan dengan banyak negara berkembang lain, namun dinamika pergerakannya menjadi lebih sensitif, seiring memanasnya ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan
Di sisi lain, selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dan US Treasury tenor serupa tetap bertahan di level lebar, yakni sekitar 240–250 basis poin.
Spread ini pada dasarnya mencerminkan premi risiko yang diminta investor untuk mengompensasi potensi pelemahan nilai tukar, tekanan inflasi, serta ketahanan fundamental makro domestik.
Kondisi ini telah tergambar jelas pada hasil lelang kemarin dengan adanya kenaikan imbal hasil yang cukup signifikan pada seri Surat Utang Negara (SUN) FR0109 menjadi 6,63%, padahal di lelang sebelumnya masih berada di level 6,27%. Begitu juga dengan seri FR0108 naik menjadi 6,8% dari sebelumnya 6,6%.
(dsp/aji)




























