Perseroan menyampaikan tengah mempersiapkan pelaksanaan fase pemeliharan tambang PT WBN, usai rencananya bakal stop operasional sementara pada bulan depan gegara kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 habis pada Mei.
Eramet Indonesia berharap proses perawatan tambang tersebut dapat berjalan aman, terkelola dengan baik, dan sesuai ketentuan yang berlaku. Proses tersebut dilakukan sembari perseroan menunggu peninjauan atas pengajuan revisi RKAB.
“Apabila terdapat perkembangan dan informasi lebih lanjut, Eramet akan menyampaikannya secara transparan kepada publik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkap manajemen Eramet Indonesia.
Dimintai konfirmasi secara terpisah, Danantara mengaku belum dapat memberikan informasi ihwal kebenaran isu bakal mengakuisisi saham Eramet di tambang nikel tersebut.
“PT Danantara Investment Management [DIM] berfokus pada pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia melalui investasi strategis dan berkualitas tinggi di berbagai sektor kunci. Saat ini, kami belum dapat memberikan tanggapan terkait hal tersebut,” kata Tim Komunikasi Danantara kepada Bloomberg Technoz, Selasa (28/4/2026).
Sebelumnya, MySteel dalam catatannya melaporkan sumber yang mengetahui hal tersebut mengungkapkan Danantara sedang melakukan pembicaraan untuk mengakuisisi seluruh atau sebagian saham Eramet SA di PT WBN.
Dalam catatannya tersebut, proses pembahasan masih dilakukan pada tahap awal. Danantara juga disebut berpotensi berpartisipasi dalam penawaran saham Eramet yang ditawarkan dengan nilai total €500 juta atau sekitar Rp10 triliun.
“Danantara sedang melakukan pembicaraan untuk membeli seluruh atau sebagian dari saham sebesar 38,7% yang dimiliki perusahaan Prancis Eramet di perusahaan tambang nikel Indonesia PT Weda Bay Nickel, menurut laporan,” ungkap MySteel dalam catatannya, dikutip Selasa (28/4/2026).
“Sumber mengatakan bahwa negosiasi tersebut masih berada pada tahap awal. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Danantara juga mungkin akan berpartisipasi dalam penawaran saham baru senilai €500 juta yang direncanakan Eramet tahun ini,” lanjutnya.
Eramet SA dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan tengah mencari pendanaan sekitar €500 juta dari penerbitan saham untuk meningkatkan modal perseroan.
Transaksi tersebut direncanakan dilakukan pada paruh kedua 2026 dan saat ini sudah mendapatkan persetujuan dari dewan direksi.
“Dalam konteks ini, diskusi dapat dilakukan dengan calon investor yang berpotensi berpartisipasi dalam peningkatan modal yang direncanakan dan membantu mendukung pertumbuhan jangka panjang Grup,” tulis Eramet dalam keterangan resminya, pekan lalu.
Adapun, Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) sebelumnya memang telah meneken memorandum of understanding (MoU) dengan Eramet untuk menjajaki pembentukan platform investasi di sektor nikel, dari operasi hulu hingga hilir.
Kemitraan tersebut bertujuan untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.
Dalam perkembangannya, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet saat itu menyatakan tidak dapat membeberkan perkembangan pembahasan MoU tersebut secara mendetail sebab kerja sama tersebut masih dalam pembahasan.
Akan tetapi, dia memastikan Eramet masih terus membahas proyek-proyek yang dapat dikembangkan bersama dengan lembaga investasi Tanah Air tersebut. Dalam hal ini, PT WBN turut dilibatkan dalam diskusi.
“Kami sedang berdiskusi dengan Danantara dan INA untuk bekerja sama. Jelas, Weda Bay Nickel terlibat dalam diskusi ini,” kata Baudelet dalam taklimat media, di Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025).
Di sisi lain, CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya terbuka dengan tawaran investasi Eramet di Weda Bay untuk mempertebal portofolio hilirisasi tambang nikel korporasi Prancis itu di Maluku Utara.
Rosan menuturkan Eramet berkomitmen untuk kembali melanjutkan rencana hilirisasi bijih nikel yang saat ini dioperasikan PT WBN.
Hanya saja, kata Rosan, Danantara masih mengkaji penawaran kerja sama yang diajukan Eramet tersebut. “Karena mereka juga salah satu, mungkin yang terbesar di Eropa untuk investasi di hilirisasi ini,” tuturnya, medio April 2025.
Weda Bay Nickel telah beroperasi sejak 2019 melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan akan beroperasi hingga 2069.
Perusahaan ini dioperasikan oleh Thingshan Group, perusahaan asal China yang memiliki porsi 51,2% saham, Eramet (asal Prancis) 37,8%, dan sisanya di miliki oleh perusahaan pelat merah Indonesia, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam dengan porsi 10%.
(azr/wdh)






























