Logo Bloomberg Technoz

Impak RKAB Nikel RI: Harga Melambung, tetapi Tambang Sulit Untung

Azura Yumna Ramadani Purnama
28 April 2026 11:00

Ekskavator memuat lapisan tanah atas ke truk pengangkut di tambang nikel yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulsel./Bloomberg
Ekskavator memuat lapisan tanah atas ke truk pengangkut di tambang nikel yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulsel./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Penambang nikel saat ini dihadapkan pada konsekuensi pahit pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Meskipun kebijakan tersebut membuat harga bijih nikel melambung, penambang tetap sulit mengambil untung sebab kuota produksinya mulai menipis.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar berpendapat penambang nikel berpotensi kehilangan momentum untuk mengakselerasi pendapatan sebab harus menahan produksi ketika harga bijih melambung.


Kuota produksi yang ketat bahkan sudah menyebabkan salah satu perusahaan tambang besar, PT Weda Bay Nickel (WBN) menyetop sementara operasional tambang pada bulan depan, sebab kuota produksi sebesar 12 juta ton bakal habis pada Mei.

Selain pemangkasan produksi, kenaikan harga bijih nikel juga dipengaruhi perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM) nikel.