“Kasus Manus menjadi momen yang memberikan kejelasan. Manus didirikan di Singapura dengan para pendiri yang berbasis di sini, namun tetap ditarik kembali. Sinyal dari Beijing adalah bahwa yang penting bukanlah di mana badan hukum tersebut berada,” kata Ke Yan, seorang analis teknologi dari DZT Research yang berbasis di Singapura.
Keputusan terkait Manus mungkin menjadi hambatan bagi Meta saat berusaha bersaing di bidang AI melawan pesaing seperti Microsoft Corp., Google, anak perusahaan Alphabet Inc., OpenAI, dan Anthropic PBC. Manus diplot membantu Meta di pengembangan agen AI yang sedang booming, atau layanan yang menggunakan AI guna menjalankan tugas.
Namun, belum jelas bagaimana Meta akan membatalkan kesepakatan tersebut. Karyawan Manus telah bergabung dengan Meta, modal telah ditransfer, dan para eksekutif startup tersebut telah bergabung dengan tim AI perusahaan AS sekaligus induk dari platforms Facebook dan Instagram tersebutt
Staf Manus telah pindah ke kantor Meta di Singapura, sementara investor termasuk Tencent Holdings Ltd., ZhenFund, dan Hongshan telah menerima hasil investasinya, menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini. Orang-orang tersebut berbicara dengan syarat anonim untuk membahas transaksi pribadi.
Meta mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kesepakatan tersebut sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan pihak perusahaan mengharapkan penyelesaian atas penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang Tiongkok, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Saham perusahaan tersebut turun kurang dari 1% dalam perdagangan pra-pasar.
Regulator di Beijing telah memegang kekuasaan yang sangat besar selama bertahun-tahun, memaksa para eksekutif puncak di banyak perusahaan seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. untuk mereformasi praktik bisnis mereka tanpa banyak perlawanan.
Contoh yang paling mirip dengan langkah Manus bisa jadi adalah keputusan Beijing untuk memaksa pemain utama layanan pemesanan kendaraan, Didi Global Inc., untuk delisting dari Bursa Efek New York tak lama setelah penawaran umum perdana (IPO) pada 2021. Perusahaan yang berbasis di Beijing ini, yang pernah dijuluki sebagai Uber-nya China, belum dapat melakukan relisting sejak saat itu dan memiliki valuasi pasar sekitar US$17 miliar.
Beijing dan Washington sedang berebut pengaruh menjelang pertemuan bersejarah mereka pada bulan Mei. Seiring memanasnya persaingan di bidang AI, Xi berusaha untuk melindungi teknologi dan talenta teratas China dari AS, sekaligus menekankan keyakinannya yang semakin kuat terhadap pengembangan semikonduktor dalam negeri.
Hal terakhir ini terlihat pekan lalu ketika perusahaan rintisan AI DeepSeek, meluncurkan model V4 yang menawarkan sinergi lebih dalam dengan chip Huawei Technologies Co. Peluncuran yang mendapat sorotan luas tersebut tampaknya dirancang untuk memproyeksikan kepercayaan diri menjelang kunjungan Trump.
Selama bertahun-tahun, AS telah membatasi akses China terhadap teknologi Amerika, termasuk chip Nvidia Corp. yang digunakan untuk melatih sebagian besar model AI. “Beijing mungkin memandang langkah ini sebagai balasan yang wajar dan sebagai respons terhadap pembatasan ekspor, pembatasan investasi, serta penyelidikan terkait transfer teknologi yang dilakukan oleh otoritas Amerika selama bertahun-tahun,” kata Brian Wong, asisten profesor di Universitas Hong Kong.
Sejak itu, lembaga-lembaga di Beijing telah mengambil langkah untuk mencegah terulangnya manuver Manus, yang diselesaikan dengan kecepatan yang tidak biasa. Akuisisi tersebut memicu penyelidikan Beijing terhadap investasi asing ilegal dan ekspor teknologi tak lama setelah pengumumannya.
(red)



























