Bahlil juga sempat mengklaim Indonesia telah memulai pembangunan fasilitas gasifikasi batu bara menjadi DME tersebut, tetapi dia tak menjelasakn lebih lanjut.
“Kemudian kita cari alternatif, kita konversi untuk melakukan DME dari batu bara low calorie. Itu salah satu alternatif,” ujar Bahlil.
“Belum, belum. Baru groundbreaking, baru groundbreaking. Kalau DME baru groundbreaking,” ucap dia.
Diprediksi Pakar
Adapun, pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi potensi gangguan pasokan impor LPG gegara ditutupnya Selat Hormuz.
Ditjen Migas Kementerian ESDM sebelumnya menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo memprediksi volume LPG yang dialihkan untuk konsumsi masyarakat umum mencapai 400.000 ton, sebab kebutuhan LPG diperkirakan berada di sekitar 5% dari total kebutuhan nasional sebesar 8,7 juta ton.
“LPG untuk industri hanya sekitar 5% dari kebutuhan nasional 8,7 juta ton per tahun. [Total LPG untuk industri yang bisa dialihkan] sekitar 0.4 juta ton,” kata Hadi ketika dihubungi, Jumat (10/4/2026).
Hadi memprediksi konsumsi gas alam terkompresi atau CNG bakal meningkat, gegara pengalihan LPG industri untuk konsumsi masyarakat.
Dia menjelaskan dunia usaha dapat menggunakan produk mini CNG tube, CNG, dan mini gas alam cair atau liquified natural gas (LNG), jika kebutuhan LPG-nya tak terpenuhi.
Hadi mengungkapkan, dari sisi biaya, sumber energi tersebut lebih kompetitif karena harga per satuan kalorinya lebih murah sekitar 20% hingga 30% dibandingkan dengan LPG.
“Tinggal meningkatkan konektivitas dan memasang kompresor di setiap jaringan pipa dalam jarak tertentu, CNG bisa didistribusikan ke kawasan-kawasan industri,” tegasnya.
Berdasarkan perhitungannya, kebutuhan LPG industri sekitar 400.000 ton setara dengan CNG sekitar 50—60 standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
“Hitungan kasar 0.4 juta ton itu setara dengan 50—60 MMSCFD saja. Produksi nasional gas sekitar 6.000 MMSCFD,” ungkap Hadi.
Adapun, dalam data Ditjen Migas, dijelaskan bahwa kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
(azr/ros)






























