Bahlil mengatakan salah satu masalah utama rendahnya produksi LPG Tanah Air gegara komposisi propana (C3) dan butana (C4) dalam gas bumi yang diproduksi Indonesia terbilang rendah.
Bahlil mengungkapkan ingin menyubtitusi impor LPG dengan mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME). Selain itu, Bahlil juga tengah mengkaji pengembangan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG).
“Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ujar Bahlil.
Adapun, pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi potensi gangguan pasokan impor LPG gegara ditutupnya Selat Hormuz.
Ditjen Migas Kementerian ESDM sebelumnya menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Tak lama setelah kebijakan tersebut, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi atau LPG tabung 12 Kg.
Sebelumnya, Kementerian ESDM melaporkan stok gas minyak cair atau LPG nasional per Selasa (14/4/2026) berada di sekitar 11 hari.
Sementara, batas minimum stok LPG nasional yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM dilaporkan sebesar 11,4 hari.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan stok komoditas migas berbeda-beda, tetapi seluruhnya diklaim dalam kondisi aman.
"Stok per jenis komoditas berbeda-beda, tapi semua dalam kondisi aman. Khusus untuk LPG data kemarin stok 11 hari," kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Rabu (15/4/2026) malam.
Meskipun begitu, Laode mengimbau masyarakat agar menggunakan komoditas energi secara wajar dan bijak, serta tidak melakukan panic buying.
Adapun, dalam data Ditjen Minerba, dijelaskan bahwa kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
(azr/ros)





























