Terdapat aksi unjuk rasa lebih dari 40.000 pekerja sehingga membawa dampak dari sisi operasional khususnya gangguan produksi di pabrik chip Pyeongtaek, salah satu fasilitas semikonduktor terbesar.

Dalam laporan SamMobile, oada satu shift malam saja output chip foundry dilaporkan turun hingga 58%, sementara produksi memori anjlok sekitar 18% karena banyak pekerja tidak masuk kerja.

Imbasnya, gangguan tersebut menjadi pukulan telak di tengah tingginya permintaan global atas chip khususnya demi memenuhi kebutuhan AI dan pusat data.  Akar persoalan mogok kerja tersebut, berasal dari konflik tenaga kerja terkait kompensasi.

Serikat pekerja menuntut peningkatan upah serta pembagian bonus lebih besar, termasuk dorongan agar perusahaan mengalokasikan sekitar 15% dari laba operasional sebagai bonus karyawan.

Dalam sebuah perhitungan yang diungkap media lokal nilai tuntutan tersebut mencapai US$27 miliar atau Rp465,29 triliun, atau Rp6,8 miliar per karyawan.

Desakan itu muncul di tengah kinerja keuangan Samsung yang sedang menguat berkat kenaikan permintaan chip dunia. Namun, di balik cemerlangnya keuangan raksasa Korea Selatan itu, para pekerja menilai mereka jauh dari sejahtera.

Para pekerja mengancam akan menggelar mogok lebih panjang hingga 18 hari jika tak mencapai kesepahaman. Tentu saja ini  berpotensi memperparah gangguan produksi dan mengguncang rantai pasok global semikonduktor.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar, mengingat posisi Samsung sebagai salah satu produsen chip terbesar dunia. Gangguan berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kinerja perusahaan, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga komponen elektronik secara global.

“Perusahaan terus bernegosiasi dengan serikat pekerja tetapi jalan ke depan belum ditemukan,” tulis laporan tersebut.

Laporan Bloomberg News menyebut bahwa polisi setempat memperkirakan jumlah aksi mogok mencapai 30.000 orang, namun perwakilan peserta unjuk rasa mengeklaim hingga 39.000 pekerja.