Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, cara ini juga diyakini dapat membantu menghindari terlalu banyak jenis obligasi berbeda di pasar, yang bisa membuat perdagangan jadi terpecah-pecah, apalagi di tengah kondisi pasar yang masih belum sepenuhnya stabil.

Nampaknya pemerintah mengambil langkah ini sebagai respons terhadap dinamika pasar yang saat ini cenderung lebih selektif dan sensitif terhadap risiko, baik dari sisi inflasi global, arah kebijakan bank sentral utama, maupun ketidakpastian geopolitik yang sedang terjadi.

Apalagi, dalam konteks pasar domestik, risiko terkait kondisi fiskal domestik masih diselimuti sentimen defisit. Di sisi lain, pekan lalu otoritas moneter Bank Indonesia sempat merevisi proyeksi defisit neraca berjalan yang mencerminkan adanya risiko pelebaran defisit eksternal sepanjang tahun fiskal 2026, seiring adanya tekanan eksternal dan aliran modal keluar. 

Bagi Indonesia kondisi ini membawa konsekuensi: harga yang harus dibayar jadi lebih mahal. Hal ini terlihat dari tingkat kupon obligasi tenor panjang yang berada di kisaran 6,5% hingga di atas 7% mencerminkan adanya premi risiko yang meningkat. 

Pemerintah menawarkan kupon lebih tinggi untuk menarik minat investor masuk ke dalam aset berdenominasi rupiah seperti SUN di tengah era bunga tinggi yang bertahan lebih lama akibat ketidakpastian global.

Begitu juga dengan investor yang tentunya akan menuntut kompensasi lebih tinggi untuk mengunci dana dalam jangka panjang.

Terlebih, di tengah volatilitas rupiah otoritas moneter juga menawarkan tingkat suku bunga tinggi bagi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap likuiditas. Sehingga, pilihan investor untuk memilih instrumen investasi berdenominasi rupiah yang lebih menguntungkan jadi lebih beragam. 

Sebagai catatan, lelang ini diikuti oleh dealer utama di antaranya: Citibank N.A., Deutsche Bank AG, PT Bank HSBC Indonesia. Serta Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) seperti PT Bank Central Asia, Tbk., PT Bank Danamon Indonesia, Tbk., PT Bank Maybank Indonesia, Tbk., PT Bank Mandiri (Persero), Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk., PT Bank OCBC NISP, Tbk., PT Bank Panin, Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk., PT Bank Permata, Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank ANZ Indonesia., Standard Chartered Bank, dan PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk. 

Serta pengelola aset JP Morgan Chase Bank N.A., PT. BRI Danareksa Sekuritas, PT. Mandiri Sekuritas, PT. Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk.  Ikut serta juga Lembaga Penjamin Simpanan; dan Bank Indonesia

Berikut data SUN yang akan dilelang besok:

  1. SPN01260530, penerbitan baru, jatuh tempo 30 Mei 2026, tingkat kupon diskonto;

  2. SPN12260730, reopening, jatuh tempo 30 Juli 2026, tingkat kupon diskonto;

  3. SPN12270429, penerbitan baru, jatuh tempo 29 April 2027, tingkat kupon diskonto;

  4. FR0109, reopening, jatuh tempo 15 Maret 2031, tingkat kupon 5,87%;

  5. FR0108, reopening, jatuh tempo 15 April 2036, tingkat kupon 6,5%;

  6. FR0106, reopening, jatuh tempo 15 April 2036, tingkat kupon 7,12%;

  7. FR0107, reopening, jatuh tempo 15 Agustus 2045, tingkat kupon 7,12%;

  8. FR0102, reopening, jatuh tempo 15 Juli 2054, tingkat kupon 6,87%;

  9. FR0105, reopening, jatuh tempo 15 Juli 2064, tingkat kupon 6,87%. 

(dsp/aji)

No more pages