Sebagai target antara, Malaysia akan memberlakukan kebijakan B12. Kebijakan ini diperkirakan menyerap 1-1,5 juta ton CPO per tahun.
Sementara di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pemberlakuan B50 efektif mulai Juli. Menurut Bahlil, Indonesia harus mampu bertahan dari gejolak harga minyak.
“B50 tetap harus ada. Ini survival mode. Siapa yang menjamin hari ini harga (minyak) turun? Besok terjadi gejolak apa lagi? Sekarang ini di dunia, orang punya duit saja belum tentu dapat barang. Ini yang kita bicara tentang kedaulatan energi,” tegas Bahlil, pekan lalu.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi harga CPO untuk hari ini, Kamis (23/4/2026)? Apakah bisa terjadi kenaikan empat hari beruntun?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO bertengger di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 55.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI CPO belum terlampau jauh dari 50, sehingga bisa dikatakan cenderung netral.
Akan tetapi, indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 39. Menghuni area jual (short) yang kuat.
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO berisiko turun. Cermati pivot point di MYR 4.574/ton.
Dari situ, harga CPO bisa saja menguji support MYR 4.569/ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Target lanjutan ada di MA-10 yakni MYR 4.528/ton.
Namun kalau harga CPO masih kuat menanjak, maka MYR 4.636/ton sepertinya bisa menjadi resisten terdekat. Resisten berikutnya ada di MYR 4.664/ton.
(aji)



























