Logo Bloomberg Technoz

Rencana sesi negosiasi berikutnya di Pakistan mulai menemui titik terang. Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan berangkat pada Senin malam untuk melanjutkan pembicaraan "baik Selasa malam atau Rabu pagi," kata Trump. Ia diperkirakan akan didampingi oleh menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff.

Trump juga menyampaikan nada optimistis terkait pembicaraan tersebut, dengan mengatakan ia ingin hadir langsung, meski menilai hal itu tidak diperlukan.

“Akan ada pertemuan. Mereka menginginkan pertemuan, dan memang seharusnya begitu. Dan hasilnya bisa berjalan baik,” kata Trump.

Di saat yang sama, kedua pihak berupaya memperkuat posisi menjelang negosiasi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di X bahwa “ketidakpercayaan historis yang mendalam di Iran terhadap perilaku pemerintah AS masih ada” dan menegaskan bahwa “rakyat Iran tidak tunduk pada tekanan.” Pernyataan itu muncul setelah Trump memperingatkan Iran akan “mendapat pukulan sangat keras” jika tidak tercapai kesepakatan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam putaran pertama pembicaraan, mengatakan pemerintahnya tidak menerima negosiasi di bawah ancaman. “Dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, Donald Trump bermaksud mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan, atau membenarkan perang baru,” tulisnya di X.

Meski demikian, pernyataan Trump dan keputusan Teheran mengirim negosiator menjadi sinyal baru bahwa kedua pihak masih berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran. Serangan tersebut mendorong Iran menyerang pangkalan AS di kawasan dan menghancurkan infrastruktur minyak dan gas milik sekutu Amerika di Teluk Persia, yang kemudian memicu krisis energi global.

Perkembangan dalam beberapa hari terakhir berlangsung cepat, menyoroti risiko jika pembicaraan gagal.

Jumat lalu, Trump menulis di media sosial bahwa kesepakatan hampir tercapai dan Iran mengumumkan pembukaan kembali selat. Namun tak lama kemudian, Teheran kembali menutup jalur tersebut setelah Trump menolak mencabut blokade AS. Selama akhir pekan, Angkatan Laut AS menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.

“Saya menutupnya. Saya mengambil kapal mereka. Saya punya lima kapal lain yang akan saya ambil hari ini jika perlu,” kata Trump dalam wawancara telepon.

Selain Selat Hormuz, isu paling sensitif lainnya adalah program nuklir Iran. Trump menuntut Iran menghentikan ambisi senjata nuklir dan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Teheran menolak menyerahkan uranium dan menyatakan program nuklirnya untuk tujuan damai.

Trump dan para penasihatnya melihat pernyataan yang berubah-ubah mengenai tenggat gencatan senjata sebagai strategi ambiguitas untuk dimanfaatkan dalam negosiasi, menurut pejabat Gedung Putih yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Namun ketidakpastian tersebut juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dengan negosiator Iran, yang juga menghadapi perbedaan pandangan internal di antara para pemimpin negara tersebut.

Kelompok konservatif dalam pemerintahan Iran dan kepemimpinan militer, termasuk di jajaran tertinggi Islamic Revolutionary Guard Corps, memandang kelanjutan blokade AS sebagai sinyal bahwa Trump tidak dapat dipercaya, menurut pejabat AS dan Iran.

Pemimpin IRGC Ahmad Vahidi termasuk di antara kelompok tersebut dan mendorong sikap negosiasi yang lebih keras, menurut sumber yang mengetahui dinamika tersebut.

Di sisi lain, terdapat perbedaan dengan tokoh yang dianggap kurang ideologis seperti Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang lebih terbuka terhadap kesepakatan dengan Washington, kata pejabat AS dan Iran.

Meski terjadi kebuntuan, para pejabat mengatakan masih ada peluang besar tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan yang secara efektif mengakhiri perang, meskipun negosiasi lanjutan terkait isu nuklir dan militer mungkin tetap diperlukan.

Trump juga menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri perang, dengan jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak menyetujui konflik tersebut. Trump berkampanye untuk menghindari keterlibatan luar negeri dan menurunkan indeks harga konsumen (IHK), dua janji yang kini tertekan akibat keputusan memulai perang.

Trump berupaya meredakan kekhawatiran tersebut dengan menyatakan harga bahan bakar akan turun cepat setelah perang berakhir dan bahwa AS tidak terjebak dalam konflik berkepanjangan.

Konflik ini telah melampaui batas waktu empat hingga enam pekan yang sebelumnya ditetapkan Trump, dan ia berulang kali menyatakan perang hampir berakhir. Namun pada saat yang sama, ia juga meminta publik Amerika bersabar, mengingat konflik AS sebelumnya berlangsung selama bertahun-tahun.

“Perang Vietnam berlangsung berapa dekade, bukan? Vietnam berlangsung bertahun-tahun. Afghanistan berlangsung bertahun-tahun. Semua berlangsung bertahun-tahun,” kata Trump. “Saya tidak akan dipaksa membuat kesepakatan buruk oleh senator dan anggota kongres pengkhianat.”

(bbn)

No more pages