Namun, kinerja tersebut lantaran didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) sepanjang awal tahun, mulai dari Imlek, Nyepi, hingga Ramadan dan Idul Fitri.
Selain faktor musiman konsumsi, peningkatan kegiatan usaha juga didukung oleh mulai berlangsungnya musim panen, khususnya pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Kombinasi antara dorongan konsumsi dan aktivitas produksi inilah yang menjadi faktor utama yang menopang stabilitas kegiatan usaha pada awal 2026.
Namun, data SKDU dengan capaian saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 10,11% pada kuartal I-2026, turun dari kuartal sebelumnya yaitu, 10,61%, mencerminkan adanya perlambatan.
Harga Jual Naik
Data SKDU juga menangkap bahwa produsen tengah menghadapi tekanan harga, yang tercermin dari kenaikan SBT harga jual menjadi 15,82% pada kuartal I-2026 dari kuartal IV-2025 sebesar 12,37%.
Kenaikan ini didorong oleh sektor perdagangan besar dan eceran, yang juga diikuti oleh sektor pertanian serta industri pengolahan.
Menurut pelaku usaha, lonjakan harga jual tersebut terutama berasal dari meningkatnya biaya bahan baku dan biaya operasional. Artinya, tekanan harga yang terjadi lebih bersifat dari sisi penawaran (cost-push) daripada dorongan permintaan.
Efek dari perang di Timur Tengah yang telah menyebabkan gangguan pasokan telah sampai pada dunia usaha di pasar domestik.
Meski begitu, survei ini menyebut tekanan harga diperkirakan mulai mereda pada kuartal selanjutnya. Pada Kuartal II-2026, SBT harga jual diproyeksikan turun menjadi 12,81%.
Perlambatan ini terutama berasal dari sektor lapangan usaha pertanian dan perdagangan, seiring dengan penurunan biaya operasional serta aktivitas promosi yang lebih intensif.
Margin Tergerus
Biaya produksi sepertinya naik lebih cepat daripada kemampuan pelaku usaha menaikkan harga, imbas dari terjadinya gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
Margin usaha pada semester I-2026 diperkirakan menurun dengan level sebesar 16,02%, lebih rendah dibandingkan 16,70% pada semester II-2025 dan 16,61% pada semester I-2025.
Penurunan ini mengindikasikan meningkatnya tekanan biaya yang tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual.
Secara sektoral, margin tertinggi tercatat pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 20,91%, diikuti pertanian 18,67%, serta jasa perusahaan 18,54%.
Sebaliknya, margin terendah berada pada sektor utilitas dan layanan publik, seperti pengelolaan air dan limbah 10,25%, administrasi pemerintahan 10,77%, serta pengadaan listrik 12,18%.
Tekanan yang terjadi pada margin usaha ini jika terjadi dalam waktu lama dapat berujung pada langkah efisiensi. Hal ini sudah tampak pada beberapa sektor yang terimbas kenaikan harga plastik sebagai bahan baku utamanya.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut ada potensi ancaman PHK terhadap 10 perusahaan, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 9.000 orang.
Di tengah kondisi ini, risiko yang dihadapi perekonomian RI tampaknya bukan lagi sekadar perlambatan, tapi juga adanya penurunan kualitas pertumbuhan.
Agaknya data SKDU dan PMI-BI menunjukkan kondisi ekonomi yang cenderung rapuh.
Sebab, saat ini ekspansi tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas, harga bahan baku naik lebih cepat daripada kemampuan pengusaha menaikkan harga jual dan menyebabkan margin tergerus, serta kenaikan harga terjadi lebih cepat daripada daya beli masyarakat.
(dsp/aji)



























