Logo Bloomberg Technoz

Pertumbuhan permintaan juga diprediksi dipengaruhi kondisi makroekonomi global yang mengalami hambatan gegara konflik di Timur Tengah.

Pelemahan harga logam nikel yang terjadi belakangan gegara konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama.

Ketidakpastian geopolitik di wilayah tersebut memiliki implikasi bagi rantai pasok dan kondisi makroekonomi, yang akan terus membentuk pergerakan harga di pasar logam.

“Hambatan makroekonomi yang lebih luas — terutama perlambatan pertumbuhan dan kondisi keuangan yang lebih ketat — mewakili risiko penurunan terhadap permintaan,” ungkap BMI.

Laju adopsi EV./dok. BMI

BMI memprediksi konflik yang masih terjadi di Timur Tengah memberikan dampak berlapis terhadap pasar nikel global, dengan kecenderungan mendorong harga ke arah kenaikan.

Akan tetapi, dari sisi permintaan, tekanan justru datang dari kondisi makroekonomi global. Perlambatan pertumbuhan ekonomi serta pengetatan kondisi keuangan dinilai berpotensi menahan konsumsi nikel.

Sumber Permintaan

BMI memandang pertumbuhan permintaan yang lebih rendah mencerminkan pertumbuhan tambahan yang lebih lambat di sektor-sektor pengguna akhir utama.

Akan tetapi, permintaan bakal terus ditopang oleh sektor energi bersih dan produksi baja nirkarat atau stainless steel yang stabil.

China diprediksi tetap menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan permintaan global pada tahun ini, tetapi laju ekspansi diperkirakan melambat.

Pertumbuhan bauran EBT di China./dok. BMI

“Meskipun permintaan terkait dengan energi bersih, termasuk kendaraan listrik dan energi terbarukan terus berkembang, pertumbuhan diperkirakan tidak sekuat pada 2025,” kata BMI.

Di luar China, BMI memperkirakan pertumbuhan permintaan nikel pada tahun ini bakal didorong oleh sektor-sektor terkait energi bersih.

Namun, konflik yang terjadi di Timur Tengah memberikan risiko makroekonomi global gegara meningkatnya harga energi dan membuat pasar menjadi rapuh.

BMI meramal permintaan nikel dari Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), Indonesia, dan India bakal tetap positif pada tahun ini.

“Namun, kami tetap waspada terhadap perkembangan di Timur Tengah, dengan risiko yang condong ke arah penurunan yang dapat memicu revisi ke bawah terhadap perkiraan pertumbuhan kami,” tulis BMI.

Harga dan Produksi

BMI juga merevisi naik proyeksi harga logam nikel dunia pada 2026, dari sebelumnya sebesar US$15.800 per ton menjadi ke level US$16.600 per ton.

Meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah masih memengaruhi sentimen pasar, prospek harga nikel kemungkinan besar bakal tetap didominasi oleh dinamika pasokan dari Indonesia.

Surplus nikel di pasar global pada tahun ini diprediksi naik menjadi 324.000 ton dari tahun lalu sekitar 240.000 ton , seiring rencana Indonesia menambah kapasitas pabrik pengolahan atau smelter.

Meskipun begitu, rencana ekspansi tersebut bakal menjaga harga batas bawah logam nikel.

Proyeksi produksi nikel RI./dok. BMI

Dengan begitu, pasokan dari Indonesia diramal bakal membatasi risiko terulangnya penurunan harga nikel secara tajam dan mendukung harga logam nikel berada di atas rata-rata 2025 sebesar US$15.161/ton.

BMI meramalkan produksi nikel olahan pada tahun ini bakal tumbuh sebesar 9,8%, lebih tinggi dari pertumbuhan 2025 sebesar 9%.

Kondisi tersebut salah satunya didorong oleh pertumbuhan pasokan dari Indonesia, yang diprediksi bakal menopang dinamika harga nikel pada tahun ini.

“Meskipun risiko di sisi pasokan masih berlanjut, harga nikel diperkirakan akan tetap terkendali namun didukung secara struktural, dengan pertumbuhan surplus yang melambat pada 2026 dan membaiknya sentimen di sisi pasokan yang menopang level harga akhir tahun yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2025,” kata BMI.

Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$18.133/ton pada Kamis (16/4/2026) di London Metal Exchange (LME). Harga nikel turun tipis 0,4% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton.

Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages