Di Washington, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga memberikan pujian serupa terhadap peran Islamabad dalam negosiasi AS-Iran.
"Pakistan telah menjadi mediator yang luar biasa. Kami sangat menghargai persahabatan serta upaya mereka untuk menuntaskan kesepakatan ini," ujar Leavitt. "Presiden merasa penting untuk terus menyederhanakan komunikasi ini melalui pihak Pakistan."
Munir, bersama Perdana Menteri Shehbaz Sharif, telah memimpin upaya mediasi Pakistan untuk mengakhiri krisis ini. Akhir pekan lalu, Islamabad menjamu perunding dari AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance serta perunding dari Iran. Namun, negosiasi maraton tersebut belum membuahkan hasil, terutama karena perbedaan pandangan terkait program nuklir Iran.
Pakistan kini menjadi pemain kunci dalam deeskalasi konflik. Negara bersenjata nuklir ini memanfaatkan kedekatan hubungannya dengan Arab Saudi, Iran, AS, dan China untuk menjadi saluran komunikasi bagi pihak-pihak yang bertikai selama beberapa minggu terakhir.
Seorang sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa AS dan Iran tengah mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu guna memberikan waktu lebih bagi negosiasi damai. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko kembalinya pertempuran, meski ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat.
Peran Pakistan sebagai perantara bagi AS bukanlah yang pertama kali. Pada Juli 1971, ketika Presiden saat itu Richard Nixon dan Penasihat Keamanan Nasionalnya Henry Kissinger diam-diam merencanakan pendekatan bersejarah dengan China, Kissinger berpura-pura sakit saat berkunjung ke Pakistan—sekutu Amerika pada era Perang Dingin—sebagai kedok perjalanan rahasia ke Beijing.
Peran Pakistan sebagai mediator dalam konflik Iran juga sebagian besar didorong oleh hubungan yang semakin erat dengan pemerintahan Trump. Setelah konflik singkat dengan India pada Mei lalu, Pakistan mendukung upaya Trump untuk memediasi perdamaian antara kedua negara, bahkan mencalonkannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian dan berulang kali memuji upaya perdamaian tersebut.
Munir juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Washington dalam setahun terakhir, dengan Trump menyebutnya sebagai “marsekal lapangan favorit saya.”
Selain meningkatkan pengaruh geopolitik, Pakistan juga memiliki alasan ekonomi untuk terlibat. Blokade Iran di Selat Hormuz telah mengganggu pasokan energi global, membuat Pakistan rentan karena sebagian besar impor minyak dan gas alam cairnya melewati jalur tersebut.
(bbn)



























