Logo Bloomberg Technoz

Pada Selasa (14/4/2026), harga emas dunia melonjak lebih dari 2% ke posisi tertinggi sejak 17 Maret. Oleh karena itu, sepertinya pelaku pasar tergiur dengan potensi keuntungan yang bisa diraih dengan menjual emas. Ini yang rasanya menjadi penyebab koreksi.

Selain itu, investor masih menanti kabar terbaru dari Timur Tengah. Terakhir, Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan kian dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Kepada New York Post, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dialog dengan Teheran akan berlanjut. Bahkan lewat wawancara dengan Fox Business, Trump menyebut bahwa perang “sedikit lagi selesai”.

Namun investor masih menunggu kepastian soal pembicaraan damai tersebut. Sebab sebelumnya, pembicaraan serupa di Islamabad (Pakistan) pada akhir pekan lalu tidak menemui kata sepakat.

“Pasar terjebak di antara ekspektasi meredanya konflik dan risiko tekanan inflasi yang belum terselesaikan,” ujar Dilin Wu, Research Strategist di Pepperstone Group Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.=

Jika inflasi masih tinggi, lanjut Wu, maka stance (posisi) bank sentral masih akan higher for longer. Artinya, ruang pelonggaran moneter dengan penurunan suku bunga menjadi sempit.

“Tanpa imbal hasil (yield), emas menghadapi batasan alami,” tambahnya.

(aji)

No more pages