Logo Bloomberg Technoz

Pekan lalu, Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendorong negara-negara berkoordinasi secara militer untuk membuka kembali Selat Hormuz. Beijing berargumen bahwa proposal tersebut "tidak seimbang" karena gagal mengatasi akar permasalahan dan hanya melontarkan tuduhan sepihak terhadap Iran.

Rusia yang kaya akan sumber daya alam berpotensi menjadi mitra yang jauh lebih berharga bagi China jika konflik terus berlanjut atau meningkat. Perang yang pecah pada 28 Februari lalu telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz dan mengacaukan aliran energi global.

Impor minyak dan gas alam China sudah mulai menurun pada bulan Maret seiring menipisnya pasokan di kawasan Teluk. Bahkan, penjualan minyak mentah Arab Saudi ke China diprediksi akan berkurang setengahnya bulan depan.

Menanggapi hal tersebut, Lavrov menegaskan dalam konferensi pers di Beijing bahwa Rusia mampu menutupi kekurangan energi yang dialami China maupun negara lain. "Rusia, tanpa ragu, dapat mengompensasi kekurangan sumber daya yang terjadi saat ini," tegasnya.

Xi pun menekankan agar kedua negara memanfaatkan "komplementaritas ekonomi, memperdalam kerja sama menyeluruh, serta meningkatkan ketahanan pembangunan masing-masing."

Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan melawat ke China pada Mei mendatang, yang akan menjadi perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini. Putin juga direncanakan hadir dalam KTT APEC di Shenzhen pada November mendatang.

Xi dan Putin mendeklarasikan kemitraan “tanpa batas” tepat sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, dengan melihat satu sama lain sebagai mitra penting dalam upaya yang lebih luas untuk menantang tatanan dunia yang dipimpin AS.

Perang AS-Israel terhadap Iran sejauh ini hanya berdampak terbatas terhadap ekonomi China, sebagian berkat langkah Beijing dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ketahanan energi. Meski demikian, banyak pabrik China yang berorientasi pada konsumen mulai mengalami tekanan keuntungan karena kenaikan biaya mendorong harga produsen meningkat setelah bertahun-tahun mengalami deflasi.

China telah mengkritik aksi militer AS terhadap Iran, memperingatkan bahwa langkah tersebut berisiko mendorong Timur Tengah ke kondisi yang lebih tidak stabil. Xi juga memposisikan negaranya sebagai kekuatan penstabil di tengah dunia yang bergejolak akibat pendekatan perdagangan dan kebijakan luar negeri Donald Trump yang dinilai tidak menentu.

Pertemuan tingkat tinggi terbaru Xi terjadi setelah serangkaian kunjungan pemimpin dunia ke China, di tengah negosiasi damai antara Iran dan AS yang tampaknya belum menunjukkan kemajuan berarti.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez pada Selasa, pemimpin China itu menyatakan bahwa tatanan internasional “runtuh dalam kekacauan.” Xi juga bertemu dengan putra mahkota Abu Dhabi serta pemimpin Partai Vietnam sekaligus presiden yang baru ditunjuk, To Lam.

Presiden Mozambik Daniel Francisco Chapo dijadwalkan berkunjung dalam beberapa hari ke depan. China juga tengah mempersiapkan penyelenggaraan pertemuan puncak dengan Trump bulan depan.

(bbn)

No more pages