Pada saat yang sama, harga nickel pig iron (NPIE) di pasar global masih terdiskon gegara permintaan yang belum membaik dan overproduksi.
Sementara itu, untuk smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), kenaikan biaya produksi terjadi lebih tinggi gegara melonjaknya harga asam sulfat gegara perang di Timur Tengah.
“Asam sulfat yang merupakan bahan utama untuk proses pelindian, mengalami kenaikan signifikan dalam 3 tahun terakhir, dari harga sebelumnya di bawah US$100/ton, sekarang mencapai US$250/ton,” tegas dia.
Sudirman menyatakan jika harga bijih nikel kadar rendah atau limonit naik lebih dari 100%, maka smelter HPAL bakal mengalami tekanan yang paling besar.
Berdasarkan perhitungan Perhapi, dengan adanya kenaikan harga HPM ditambah kenaikan harga asam sulfat maka biaya produksi nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP) yang dihasilkan smelter HPAL bakal mencapai lebih dari US$17.000/ton.
Pada saat yang sama, Sudirman mencatat harga logam nikel di London Metal Exchange (LME) turut berkisar di US$17.000/ton.
“Perhapi memahami latar belakang dan tujuan dan perubahan atas HPM nikel ini, yaitu salah satunya untuk menaikkan royalti nikel. Namun demikian, Perhapi menggarisbawahi bahwa kebijakan tersebut mestinya juga mempertimbangkan keberlangsungan industri hilirisasi nikel,” ungkap Sudirman.
Dia menegaskan, jika keekonomian smelter nikel tak lagi menarik maka bakal memiliki efek rambatan yang begitu panjang hingga akhirnya pabrik pengolahan nikel berhenti beroperasi.
Adapun, Shanghai Metals Market (SMM) memperkirakan biaya produksi MHP yang dihasilkan smelter HPAL bakal naik 17% atau sekitar US$2.600/ton nikel, menjadi sekitar US$17.7560/ton nikel.
Sementara pada produk NPI yang diproduksi smelter RKEF, biara produksi diprediksi naik terbatas sebesar 3,7% atau sebesar US$570,48/ton nikel menjadi US$15.741/ton nikel.
Hitung-hitungan tersebut didapatkan dengan prediksi HPM nikel kadar rendah (1,2%) bakal naik ke level US$40,18/wet metric ton (wmt) dari rata-rata HPM sebelumnya di rentang US$16—US$17 per wmt.
SMM mencatat saat ini harga rata-rata bijih nikel berkadar 1,2% berada di sekitar US$30,5/wmt, dengan kenaikan HPM menjadi US$40,18/wmt maka harga bijih nikel kadar rendah tersebut diprediksi naik ke level US$48,18/wmt.
Prediksi kenaikan harga bijih nikel tersebut dihitung dengan asumsi kenaikan corrective factor (CF) serta kadar air sebesar 35%—40%, kadar kobalt sekitar 0,07%, kadar besi 25%, dan kadar kromium 3%.
Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengubah HPM untuk penjualan komoditas mineral logam, termasuk bijih nikel dan bijih bauksit.
Aturan tersebut tertuang di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Aturan itu berlaku efektif mulai 15 April 2026.
Dalam aturan terbaru tersebut, formula HPM bijih nikel tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel, melainkan turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air atau moisture content.
Dijelaskan bahwa kontribusi unsur tambahan hanya dihitung jika memenuhi ambang batas tertentu, seperti kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%.
Sementara itu, faktor koreksi atau CF juga ditetapkan berbeda untuk masing-masing komoditas, yakni 30% untuk nikel, besi, dan kobalt, serta 10% untuk krom.
Selain itu, penggunaan satuan juga berubah dari sebelumnya US$/dmt menjadi US$/wmt.
Sebelumnya dalam Kepmen ESDM No. 268 Tahun 2025, perhitungan HPM bijih nikel hanya didasarkan pada kadar nikel (%Ni), corrective factor (CF), dan harga mineral acuan (HMA) nikel.
Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$18.206/ton pada Rabu (15/4/2026) di London Metal Exchange (LME). Harga nikel melonjak 2,87% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
(azr/wdh)




























