Sementara, untuk tenor pendek rasio bid-to-cover mencapai 2,98 kali hingga 3,26 kali.
Meski animo meningkat, pemerintah hanya menaikkan jumlah yang dimenangkan secara terbatas, dari Rp40 triliun pada lelang 31 Maret, menjadi Rp42 triliun pada lelang ini.
Di sisi lain, pergerakan yield dalam lelang kemarin juga cenderung turun, terutama di tenor menengah. Yield SUN seri FR turun sekitar 20 hingga 30 basis poin dari kisaran 6,57% hingga 6,93% menjadi 6,27% hingga 6,84%.
Walaupun imbal hasil tercatat turun, level tersebut dianggap masih tergolong tinggi.
Pemerintah menyikapi sinyal bahwa premi risiko RI masih diganjar mahal dengan mengurangi penyerapan pada tenor sangat panjang, dan fokus pada penyerapan tenor menengah.
Pada seri FR0105 bertenor 38 tahun misalnya, meski penawaran masuk mencapai Rp1,22 triliun, pemerintah hanya menyerap Rp0,8 triliun dengan bid-to-cover ratio 1,53 kali.
Begitu juga dengan seri FR0102 dengan tenor 28 tahun hanya diserap sebanyak Rp1,3 triliun dengan penawaran yang masuk Rp1,86 triliun.
Pemerintah menyerap paling banyak dari seri FR0109 (tenor 5 tahun) dengan komposisi 56% dengan nilai yang dimenangkan Rp23,55 triliun dari total nilai Rp42 triliun.
"[Pemerintah] mengambil momentum foreign inflow dan demand yg mulai mengarah ke pendek," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.
Memang, jumlah penawaran yang masuk (incoming bids) di seri ini terbilang jumbo mencapai Rp44,43 triliun. Sementara lelang sebelumnya penawaran di seri yang sama hanya Rp19,93 triliun, lalu dimenangkan sebesar Rp16,7 triliun.
Sementara, komposisi seri FR0108 dengan tenor 10 tahun sebesar 12% dengan nilai yang dimenangkan Rp5,2 triliun dari total Rp42 triliun.
Di tengah kondisi yang belum kondusif, memperbesar porsi penyerapan tenor menengah menunjukkan kompromi pemerintah yang mempertimbangkan antara besarnya kebutuhan pembiayaan dengan upaya menahan biaya utang.
Sepertinya, animo pelaku pasar dalam lelang kali ini masih bersifat taktis yang memanfaatkan momentum jangka pendek ketimbang penempatan jangka panjang.
Maklum, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda. Gencatan senjata antara AS dan Iran memang meredakan tekanan sementara, tapi sifatnya masih rapuh.
Setiap eskalasi baru bisa kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah, dan memperkuat posisi dolar AS. Dalam konteks ini, alarm risk-off investor akan kembali berdering dan menekan aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
(dsp/aji)



























