Pencarian Sisa Jenazah Tentara AS
Menyitir situs resmi, DPAA sebenarnya telah menandatangani kerangka kerja sama (framework arrangement) dengan Pemerintah Indonesia pada 21 Maret 2023. Penandatanganan tersebut memungkinkan pelaksanaan misi penelitian dan survei gabungan DPAA pertama pada tahun tersebut untuk mencari warga Amerika yang hilang sejak perang dunia kedua di Indonesia.
Saat itu, kedua negara sepakat untuk memulai kegiatan DPAA di Pulau Morotai yang bertujuan untuk melanjutkan upaya pendataan terhadap lebih dari 1.900 personel Amerika Serikat yang hilang dan gugur di Indonesia selama perang dunia kedua.
Perlu diketahui, Pulau Morotai terletak di Maluku Utara, berada di sebelah utara Pulau Halmahera dan berdekatan dengan Filipina secara geografis. Menyitir situs resmi Kementerian Kebudayaan, pulau itu sebenarnya dikuasai oleh Jepang pada Desember 1942.
Namun, Angkatan Laut Amerika Serikat pimpinan Jenderal Douglas MacArthur kemudian mengambil alih pulau Morotai yang mendapat julukan “Mutiara di Bibir Pasifik” pada 15 September 1944. MacArthur membawa 3.000 pesawat tempur dan pengebom beserta batalyon tempur. Morotai merupakan pijakan pertama Jenderal Douglas MacArthur yang berjanji “I Shall Return” setelah dipukul mundur oleh pasukan Jepang di Filipina.
Pulau Morotai dijadikan sebagai pusat pertahanan dan pangkalan militer pasukan Sekutu yang dimotori Amerika Serikat untuk menghadapi Pasukan Jepang di Kawasan Pasifik. Letaknya yang dekat dengan Filipina dan berada di sisi barat Samudera Pasifik menjadi alasan dipilihnya pulau tersebut. Pulau Morotai menjadi landasan serangan pasukan Sekutu ke Filipina pada awal 1945 dan Borneo timur pada bulan Mei dan Juni 1945.
(dov/frg)



























