Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, harga pembelian kargo itu akan dikaitan dengan slope 16% terhadap Indonesian Crude Price (ICP), yang mencerminkan volatilitas harga minyak mentah dunia di pasar.

Dengan asumsi harga minyak US$82 per barel, analis J.P. Morgan memperkirakan potensi penurunan sekitar 20% terhadap earnings per share atau laba per saham tahun ini.

Belakangan, J.P. Morgan mengubah posisinya terhadap PGAS menjadi netral dari sebelumnya overweight.

“Untuk saat ini, kami mencerminkan risiko tersebut dengan menurunkan asumsi multiple bisnis pipa gas menjadi 4 kali EBITDA dari sebelumnya 5 kali dalam valuasi SOTP, menghasilkan target harga baru Rp2.090 per saham,” tulis analis J.P. Morgan.

Dari lantai bursa pada penutupan perdagangan sesi I Selasa (14/4/2026), saham PGAS bergerak ke level Rp1.850 per saham atau susut 3,14% sejak awal tahun. Saham PGAS sempat menyentuh level Rp2.450 per saham pada 2 Maret 2026.

Setali tiga uang, UBS belakangan menurunkan rating atau downgrade saham PGAS menjadi netral dengan pertimbangan margin yang makin tipis akibat kenaikan harga minyak mentah.

UBS memangkas target harga PGAS untuk 12 bulan mendatang ke level Rp2.180 per saham, dari sebelumnya di angka Rp2.400 per saham.

Menurut hitung-hitungan UBS, dengan asumsi harga minyak mentah Brent di kisaran US$80 per barel sampai US$85 per barel akan berdampak pada kenaikan biaya pengadaan LNG hingga sekitar US$2,4 per MMbtu hingga US$3,2 per MMbtu.

“Kami menilai kecil kemungkinan PGAS dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan harga tersebut kepada pelanggan, sehingga menimbulkan risiko penurunan spread atau margin distribusi,” tulis Analis UBS Timothy Handerson dikutip dari riset, Selasa (14/4/2026).

Selain itu, kata Timothy, kenaikan harga gas juga berpotensi menekan volume distribusi PGAS.

Malahan, pasokan LNG global yang makin ketat berpotensi meningkatkan slope harga. Konsekuensinya, kenaikan harga LNG masih bisa berlanjut ke level lebih tinggi.

“Kami meyakini bahwa kondisi ini menimbulkan risiko signifikan terhadap volume dan margin distribusi gas, mengingat PGAS kemungkinan tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya LNG tersebut,” tuturnya.

UBS belakangan menurunkan proyeksi spread distribusi gas menjadi US$1,8 per MMbtu sampai US$1,9 per MMBtu serta memangkas proyeksi volume distribusi gas sebesar 1% sampai 7% pada periode 2026-2028.

Laba Merosot

Sebelumnya, PGAS mencatat laba bersih US$215,36 juta atau sekitar Rp3,6 triliun (asumsi kurs Rp16.720 per dolar AS) sepanjang 2025.

Laba bersih itu anjlok 36,55% dibandingkan dengan torehan sepanjang 2024 sebesar US$339,42 juta atau sekitar Rp5,48 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan, PGAS mencatat pendapatan sebesar US$3,97 miliar atau sekitar Rp66,48 triliun sepanjang 2025.

Torehan pendapatan  itu naik 4,94% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$3,78 miliar atau sekitar Rp61,21 triliun.

Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman mengatakan perseroannya tetap menjaga kesinambungan penyaluran gas kepada pelanggan.

“Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif,” kata Fajriyah lewat keterbukaan informasi dikutip Jumat (6/3/2026).

Di sisi lain, beban pokok pendapatan PGAS turut bergerak naik ke level US$3,27 miliar pada 2025 dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar US$3,03 miliar.

Sepanjang 2025, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD. Sementara volume transmisi gas bumi naik 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.

Kinerja operasional juga belakangan diperkuat segmen bisnis infrastruktur LNG. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD, tumbuh 17% dan berkontribusi pada keandalan penyaluran gas untuk berbagai sektor, termasuk industri dan pembangkit listrik.

Sementara itu, PGAS mencatat volume penyaluran minyak sebesar 174.811 BOEPD, didorong meningkatnya aktivitas pengangkutan minyak melalui jaringan pipa eksisting.

Sepanjang 2025, PGAS memperluas infrastruktur gas bumi dengan menambah lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi jargas, serta menjaga keandalan sistem operasi dengan tingkat availability mencapai 98,84%.

“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN,” kata Fajriyah.

Sementara itu, kontribusi anak perusahaan dan afiliasi turut menguat dengan volume pemrosesan LPG sebesar 117 metrik ton per hari, naik 8%.

Sedangkan pencapaian lifting minyak dan gas sebesar 17.519 BOEPD.

Pada segmen LNG Trading Internasional, PGAS berhasil mengirim tujuh kargo LNG atau setara sekitar 59 BBTUD ke pasar internasional sepanjang 2025.

Di sisi lain, total liabilitas PGAS sampai akhir 2025 mencapai US$2,62 miliar, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,16 miliar dan liabilitas jangka panjang U$1,45 miliar.

Adapun, total aset PGAS bergerak ke level US$6,23 miliar, berasal dari aset lancar sebesar US$2,07 miliar dan aset tidak lancar US$4,15 miliar. Sementara itu, PGAS mencatat ekuitas neto sebesar US$3,6 miliar sampai akhir 2025.

(naw)

No more pages