Saham–saham infrastruktur, saham perindustrian, dan saham barang baku menjadi pendorong penguatan IHSG dengan melesat mencapai 4,86%, 3,05% dan 3,01%.
Adapun saham–saham infrastruktur yang terbang tinggi di zona hijau adalah, saham PT PP Presisi Tbk (PPRE) menguat 26,7%, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melesat 25%. Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terapresiasi 12,4%.
Senada, saham perindustrian juga melesat hingga menjadi pendorong IHSG, saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) menguat 24,9%, saham PT Citatah Tbk (CTTH) melesat 13,4%. Saham PT Bakrie and BrothersTbk (BNBR) mencatat kenaikan 12,5%.
Saham–saham LQ45 juga menguat dan bergerak pada teritori positif i.a, adalah saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 10%, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melejit 7,59%. Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terapresiasi 6,27%.
Sama halnya, tren bullish juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatat kenaikan 5,44%, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menguat 5,07%. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terapresiasi 4,12%.
Meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran melalui negosiasi lanjutan, di mana sebelumnya sudah sempat gagal. Pernyataan kedua pihak yang membuka peluang negosiasi meredakan kekhawatiran.
Kemajuan ini memicu minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham.
“Diperkuat pula dengan adanya indikasi negosiasi yang berkelanjutan setelah Presiden Iran menghubungi Trump,” mengutip catatan terbaru Panin Sekuritas siang hari ini, Selasa.
Senada, Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan pemerintahannya telah dihubungi oleh Iran pada Senin pagi untuk membahas kesepakatan lebih lanjut.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Iran siap melanjutkan pembicaraan damai semata–mata dalam kerangka hukum dan peraturan internasional.
“Kenaikan pasar saham di awal minggu ini memberi sinyal bahwa para pelaku pasar masih berspekulasi bahwa perdamaian dapat terjadi,” terang Phillip dalam catatannya.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, menurut sumber yang mengetahui masalah ini, target utamanya adalah menggelar pembicaraan baru sebelum masa gencatan senjata dua minggu—yang diumumkan pada 7 April lalu—berkesudahan pada pekan depan.
Salah satu opsi yang muncul adalah kembali ke Islamabad untuk putaran kedua, biarpun beberapa lokasi alternatif lain juga mulai dibahas.
Pejabat Gedung Putih sedang mendiskusikan kemungkinan pertemuan lanjutan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan– upaya untuk menyelesaikan isu-isu krusial antara AS dan Iran masih terus berjalan.
Presiden Donald Trump memberikan sinyal keterbukaan untuk berdialog kembali pada Senin pagi, dengan mengklaim bahwa pihak Iran telah menghubungi AS.
Sinyal positif juga sempat muncul saat Trump mengunggah pesan di media sosial pada Minggu, yang menyebut para utusannya "secara mengejutkan menjadi sangat ramah dan hormat terhadap delegasi Iran."
“Pasar benar–benar ingin memberikan kesempatan bagi perdamaian, dengan menonjolkan sisi positif dan mengesampingkan sisi negatif di tengah ketegangan AS–Iran," tutur Kyle Rodda, analis di Capital.com Inc., mengutip Bloomberg News.
(fad)




























