Selain itu, AS dan Indonesia juga sepakat meningkatkan pelatihan pasukan khusus bersama. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kepentingan keamanan bersama sekaligus mempererat hubungan antara personel militer kedua negara melalui peningkatan akses pendidikan militer profesional dan pembentukan jaringan alumni pertahanan.
Hegseth menilai kunjungan Indonesia menunjukkan pentingnya hubungan keamanan yang terus berkembang antara kedua negara. Ia mengatakan bahwa AS dan Indonesia melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahun.
“Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat daya tangkal kawasan, dan memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,” ujar Hegseth dikutip dari laman Departemen Pertahanan AS.
Sementara itu, Sjafrie menyatakan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan AS dalam jangka panjang.
“Hari ini kami hadir sebagai delegasi Indonesia dengan antusiasme besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan yang harus bertahan bagi generasi berikutnya di Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Sjafrie. “Kami bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing.”
Kedua pemimpin mendeskripsikan kerja sama ini sebagai “line of departure”, istilah militer yang menandai dimulainya misi baru bagi kedua negara. Hegseth juga secara khusus menyampaikan apresiasinya atas bantuan Indonesia dalam misi kemanusiaan pencarian dan pengembalian jenazah tentara AS yang gugur di wilayah Indonesia pada masa Perang Dunia II.
Peluncuran MDCP ini bertepatan dengan momentum lebih dari 75 tahun hubungan diplomatik antara RI dan AS yang telah terjalin sejak 1949.
(del/spt)































