Kenaikan harga energi tersebut menekan mata uang kawasan Asia. Pelemahan dipimpin peso 0,77%, lalu won Korea Selatan 0,49%, yen Jepang 0,27%, dolar Singapura dan Taiwan masing-masing melemah 0,23%, ringgit Malaysia 0,14%, yuan offshore 0,11%, dan yuan China 0,08%.
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 16-17 Maret 2026, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan kinerja negara pembayara Indonesia perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak perang Timur Tengah.
Menurut data BI, aliran modal dan finansial pada Januari–Februari 2026 secara kumulatif mencatat aliran modal masuk atau net inflows sebesar US$1,6 miliar ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat aliran modal keluar atau net outflows sebesar US$1,1 miliar dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$1 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar US$2,5 miliar akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor nonmigas.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terjaga sebesar US$151,9 miliar, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ke depan, menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari produk domestik bruto (PDB). Dalam kaitan itu, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global, akan terus ditingkatkan.
(lav)




























