Logo Bloomberg Technoz

Logistik Ekspor

Meski biaya logistik dalam negeri cenderung stabil akibat kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) domestik, manajemen mengantisipasi adanya potensi kenaikan pada biaya pengiriman luar negeri (freight cost) untuk kebutuhan ekspor.

Mayora saat ini tengah mempelajari besaran kenaikan tersebut guna mengukur dampaknya terhadap profitabilitas di pasar global.

Terkait harga jual produk, perseroan menegaskan belum memiliki urgensi untuk melakukan penyesuaian di tingkat konsumen.

Strategi ini diambil dengan pertimbangkan kondisi biaya produksi yang dinilai masih relatif terkendali. 

"Namun, kami terus mengamati perkembangan harga bahan baku dan beberapa bahan penunjang lain yang mungkin mengalami kenaikan akibat dari adanya kenaikan harga minyak dunia," tambah manajemen.

Optimisme manajemen untuk menjaga margin menjadi krusial mengingat kinerja keuangan MYOR sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan adanya tekanan pada pos laba bersih.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat turun menjadi Rp2,86 triliun, lebih rendah dibandingkan periode 2024 yang mencapai Rp3 triliun.

Penurunan laba ini terjadi meskipun perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 7,23% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp38,68 triliun.

Penjualan domestik masih menjadi motor utama dengan kontribusi Rp22,83 triliun, sementara pasar ekspor menyumbang Rp15,87 triliun.

Tekanan pada laba terutama dipicu oleh kenaikan beban pokok penjualan yang tumbuh 8,71% menjadi Rp30,18 triliun, melampaui laju pertumbuhan pendapatan.

Selain itu, lonjakan signifikan pada beban lain-lain bersih sebesar 212,90% menjadi Rp107,21 miliar turut menggerus laba usaha perseroan yang terkontraksi 4,89% menjadi Rp3,72 triliun.

Peringatan Bank Dunia

Sikap waspada Mayora sejalan dengan laporan terbaru World Bank bertajuk East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026.

Bank Dunia memperingatkan bahwa gejolak harga minyak dunia berisiko memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan mengalami dampak inflasi sekitar 0,22% akibat guncangan harga energi.

Meski tergolong moderat dibandingkan negara tetangga seperti Thailand (0,67%) dan Filipina (0,62%), pemantauan ketat tetap diperlukan agar ekspektasi inflasi tidak bergerak liar.

"Indonesia menunjukkan respons inflasi yang moderat, sebagian disebabkan oleh subsidi domestik dan mekanisme harga yang diatur pemerintah, sehingga melindungi konsumen dari tekanan harga energi," tulis laporan World Bank.

(fik/naw)

No more pages