Logo Bloomberg Technoz

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melemah jadi 130,4 dari 134,4 pada Februari. Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan ekspektasi terhadap penghasilan, peluang kerja, dan aktivitas usaha dalam enam bulan ke depan. 

Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP) terkoreksi menjadi 137,7 dari 140,7. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) juga berubah menjadi 128 dari 131,7, dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) menyusut menjadi 125,5 dari 130,9 pada bulan sebelumnya. 

Persepsi terhadap lapangan kerja menurun yang tergambar pada angka Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang terkoreksi 2,9 menjadi 107,9 dari 110,7 pada Februari. 

Begitu juga dengan pembelian barang tahan lama ikut terkoreksi (IPDG) menjadi 109,2 dari 112. Perubahan perilaku konsumen terjadi dan terlihat menahan diri untuk tidak melakukan pengeluaran dalam jumlah besar. 

Konsumsi Naik, Tabungan Stagnan

Data IKK Maret juga menggambarkan perubahan kondisi rumah tangga dalam mengelola keuangan mereka.

Pada Februari, rasio konsumsi terhadap pendapatan menurun, sementara tabungan meningkat. Artinya, rumah tangga sedang memperkuat bantalan keuangan mereka. 

Namun pada Maret, pola ini berubah. Proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi justru meningkat menjadi 72,2%, sementara tabungan stagnan di angka 17,6%. 

Hal ini bisa jadi sinyal bahwa konsumen mulai mengandalkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya di tengah inflasi harga kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman. 

Di sisi lain, stagnannya jumlah tabungan sejalan dengan data Bank Indonesia pada bulan sebelumnya dan melanjutkan trennya.

Mengacu data BI, dana dana pihak ketiga (DPK) pada Februari turun menjadi Rp8.082 triliun, lebih rendah dari DPK pada Januari sebesar Rp8.112 triliun.

Menyusutnya jumlah DPK ini disumbang oleh berkurangnya giro menjadi Rp2.302 triliun dari Rp2.345 triliun. Begitu juga dengan tabungan yang berkurang menjadi Rp2.859 triliun dari Rp2.862 triliun. 

Sementara, pertumbuhan simpanan berjangka melambat menjadi 3,7% pada Februari daripada pertumbuhan bulan sebelumnya 5,9%.

Begitu juga tabungan yang tumbuh melambat menjadi 9,3% pada Februari, dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 15,3%. 

Alarm Pasar Tenaga Kerja 

Data IKK Maret juga menunjukkan optimisme terhadap pekerjaan di hampir semua kelompok mulai terkikis. Hal ini terlihat dari angka ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja. 

Survei Konsumen ini menunjukkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, optimisme terhadap peluang kerja dalam enam bulan ke depan menurun di hampir semua kelompok masyarakat, baik dari tingkat pendidikan maupun usia. 

Pada kelompok pendidikan, penurunannya hampir merata. Lulusan SMA, diploma, hingga sarjana sama-sama menunjukkan penurunan ekspektasi terhadap peluang kerja. 

Hanya kelompok pascasarjana yang mencatatkan lonjakan optimisme pada Maret ini setelah bulan Februari lalu anjlok.

Survei Konsumen (Bank Indonesia)

Di satu sisi, optimisnya kelompok pendidikan ini bisa jadi kabar baik bagi tenaga kerja berkeahlian tinggi yang sempat lesu pada bulan sebelumnya.

Namun di sisi lain, peluang yang hanya terjadi pada kelompok berpendidikan tinggi ini mengindikasikan adanya penyempitan akses terhadap kesempatan ekonomi. 

Pola yang sama juga terlihat dari kelompok usia produktif, mulai 20 tahun hingga 60 tahun, yang mengalami penurunan ekspektasi terhadap leuang kerja. 

Survei Konsumen (Bank Indonesia)

Bahkan, kelompok usia 20 hingga 30 tahun, yang selama ini jadi motor optimisme dan konsumsi, ikut mencatakan penurunan ekspektasi. 

Lebih lanjut, adanya gap antara kelompok pendidikan tinggi dan kelompok pendidikan lainnya bisa jadi menunjukkan adanya permintaan tenaga kerja spesifik dengan keterampilan khusus. Sedangkan tenaga kerja dari kelompok pendidikan lainnya sedang menghadapi tekanan. 

Apabila kondisi ini terus berlanjut, potensi yang mungkin terjadi adalah kesenjangan ekonomi semakin lebar. 

(dsp/aji)

No more pages