Saleh pun meminta agar, Menpar Widi memperjelas kembali terkait hitungan anggaran. “Dan ini sudah tidak tepat dari pemasarannya, salah hitungannya, dari event, salah hitungannya, belum yang kecil-kecil, salah juga hitungannya. Kami mohon diperjelas sehingga menjadi bahan evaluasi kita semua,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan itu, Menpar Widi pun menjawab bahwa ketidakseimbangan tersebut terjadi karena dana masih kurang.
“Jadi, mengenai postur anggaran yang tidak imbang, Bapak, pemasaran dan event emang besar; anggaran promosi RI paling besar. Menurut kami, masih kurang kalau dibandingkan dengan negara lain, seperti di Singapura US$25 per akuisisi, Thailand US$4,4, Malaysia US$3,2, sementara Indonesia US$0,8. Kalau ingin kompetitif dengan negara lain tentu promosi kita harus menyamakan atau setara,” jawab Widi.
Saleh pun kembali pertanyakan terkait anggaran untuk kedeputian yang jauh lebih rendah daripada anggaran pemasaran dan promosi.
Widi pun menjawab bahwa anggaran yang diterima Kemenpar memang belum ideal. “Memang belum ideal, Bapak, jika dibandingkan dengan anggaran sebelumnya: pernah sampai Rp5 triliun, pernah juga Rp3,1 triliun. Kami hanya memiliki Rp1,46 triliun, tapi IQ kami untuk mendatangkan wisatawan dan devisa. Untuk meningkatkan devisa harus banyak wisatawan yang datang ke Indonesia,”
(spt)






























