“China bertindak karena perang di Iran secara langsung mengancam kondisi ekonomi yang menjadi dasar pertumbuhan dan stabilitas politik domestik,” kata Liu. “Trump yang secara terbuka memuji China adalah modal politik yang diinginkan Beijing menjelang pertemuan puncak yang dijadwalkan ulang.”
Penghentian sementara pertempuran juga akan mempermudah kunjungan Trump ke Beijing bulan depan, dengan peran China membuat pemimpin AS tersebut berada dalam posisi berutang secara diplomatik kepada mitranya dari China. Trump juga menuju Beijing setelah tarif hukuman yang ia tetapkan dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS, serta dengan kehadiran militer AS di Asia yang berkurang karena sumber daya dialihkan ke Timur Tengah.
Namun bagi Beijing, terlibat dalam negosiasi perang yang sulit diselesaikan juga membawa risiko, bahkan jika perannya terbatas pada tekanan di balik layar terhadap sekutu yang bergantung pada dukungan China. China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak negara tersebut.
Menegaskan risiko tersebut, pejabat Pakistan dilaporkan mengatakan kepada The Guardian bahwa sementara Islamabad bertindak sebagai mediator, China berfungsi sebagai “penjamin,” dengan menjanjikan pejabat Iran tidak akan menjadi target pembunuhan selama negosiasi berlangsung. Belum jelas bagaimana Beijing dapat memberikan jaminan tersebut, atau motivasinya mengingat konsekuensi yang mungkin muncul jika terjadi kegagalan.
Saat ditanya mengenai laporan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menghindari pertanyaan dalam konferensi pers rutin Kamis, dengan mengatakan China “selalu mendorong penghentian konflik secepat mungkin dan penyelesaian perbedaan melalui jalur diplomatik dan politik untuk memulihkan stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah.”
Upaya Mediasi
Selama bertahun-tahun, Xi mengabaikan permintaan pemimpin Barat untuk menggunakan kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin guna membantu mengakhiri perang di Ukraina. Sebaliknya, Beijing memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi kepada Moskow sebagai mitra utama dalam menentang tatanan dunia yang dipimpin AS.
Meski China meningkatkan kredibilitasnya dengan memediasi meredanya ketegangan antara Arab Saudi dan Iran pada 2023, masih belum jelas seberapa besar peran Beijing dalam mencapai kesepakatan tersebut.
Upaya mediasi lain juga umumnya terbatas pada konflik di sekitar wilayah China, seperti di Myanmar, di mana pejabat China berperan dalam pembicaraan gencatan senjata, serta pembicaraan damai selama tujuh hari antara Afghanistan dan Pakistan. Langkah tersebut dapat membantu meredakan ketegangan di Islamabad menjelang pembicaraan Iran-AS yang dijadwalkan berlangsung Sabtu, dengan Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi Amerika.
Menjelang pembicaraan tersebut, Trump mengatakan kepada NBC News bahwa pemimpin Iran “jauh lebih rasional” dibandingkan dengan komentar publik mereka.
Namun membawa Iran ke meja perundingan hanyalah langkah awal untuk mengakhiri konflik. Teheran menginginkan jaminan keamanan agar tidak kembali diserang dan secara terbuka meminta China memainkan peran tersebut—permintaan yang menurut analis kemungkinan besar tidak akan dipenuhi Beijing.
“Sulit membayangkan China memberikan jaminan keamanan eksplisit kepada Iran selama atau setelah gencatan senjata,” kata Tong Zhao, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace. “Komitmen seperti itu bertentangan dengan keengganan lama China terhadap risiko militer—terutama jika berpotensi memicu konfrontasi dengan AS.”
Beijing, menurut Zhao, kemungkinan lebih memilih memberikan dukungan ekonomi untuk menstabilkan ekonomi Iran atau membantu pemulihan kapasitas pertahanan. Ia juga menyebut laporan bahwa China masih mengekspor sodium perchlorate—bahan baku bahan bakar rudal—ke Iran mengarah pada kemungkinan tersebut.
Pertemuan puncak China-Arab yang telah lama direncanakan tahun ini juga akan memberi kesempatan bagi pejabat Timur Tengah untuk mendorong Beijing mengambil peran lebih besar, kata Wang Yiwei, profesor hubungan internasional di Renmin University of China sekaligus mantan diplomat China.
“China jelas tidak senang dengan penutupan Selat Hormuz,” ujarnya. “Namun bagaimana menjamin masa depan Selat Hormuz, atau Laut Merah, sebagai kepentingan publik bagi seluruh dunia masih menjadi pertanyaan besar.”
(bbn)



























