Data terbaru ini mencerminkan profil konsumen yang semakin berhati-hati dalam enam bulan terakhir akibat kekhawatiran biaya hidup dan pasar kerja yang lesu. Pendapatan riil yang dapat dibelanjakan bahkan merosot 0,5%, penurunan tertajam dalam hampir satu tahun terakhir.
Tekanan inflasi kian meningkat seiring perang yang mengerek harga bahan bakar dan material. Beberapa perusahaan mulai membebankan biaya tersebut kepada konsumen. Meski pengembalian pajak sempat menopang belanja di Februari, lonjakan harga energi berisiko memangkas daya beli tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
"Ketika rumah tangga berada di tengah atau mengantisipasi kesulitan finansial, mereka akan menahan pengeluaran sebagai bentuk perlindungan diri," ujar Elizabeth Renter, ekonom senior di NerdWallet. "Hal ini dapat memicu perubahan nyata pada ekonomi makro dalam bentuk pertumbuhan yang lebih lambat."
Delta Air Lines Inc mengatakan berencana menaikkan harga tiket lebih lanjut, sementara layanan pos AS (USPS) berencana menaikkan tarif paket hingga 8% hingga pertengahan Januari tahun depan.
Harga Minyak
Meskipun harga minyak sempat anjlok pada Rabu menyusul kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, harga minyak mentah Brent masih sekitar US$25 per barel lebih mahal dibandingkan sebelum perang pecah.
Gambaran inflasi yang lebih mutakhir akan dirilis pada Jumat melalui laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Maret. Para ekonom memprediksi kenaikan sebesar 0,9%—lompatan bulanan tertajam sejak 2022—setelah perang memicu kenaikan harga bensin hingga lebih dari US$1 per galon.
Data BEA juga menunjukkan kenaikan indeks harga PCE terutama terjadi pada barang. Harga barang rekreasi, pakaian, dan energi meningkat sejak awal tahun.
Pada saat yang sama, indikator inflasi jasa yang banyak diperhatikan—tidak termasuk energi dan perumahan—naik 0,2%, kenaikan terkecil sejak September.
Pendapatan Pribadi
Data BEA juga menunjukkan pendapatan pribadi, yang tidak disesuaikan dengan inflasi, mengalami penurunan, terutama karena merosotnya pendapatan dividen dan transfer pribadi. Upah dan gaji hanya naik 0,2%, sementara tingkat tabungan masyarakat turun ke angka 4%.
Di sisi lain, revisi angka pertumbuhan menunjukkan ekonomi AS berekspansi lebih lambat dari perkiraan semula pada akhir 2025. Produk Domestik Bruto (PDB) riil kuartal keempat hanya tumbuh pada tingkat tahunan 0,5%.
Meskipun pertumbuhan melambat, laba perusahaan sebelum pajak pada kuartal keempat justru melonjak 6%, kenaikan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Sementara itu, data terpisah dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan klaim tunjangan pengangguran berulang turun ke level terendah dalam dua tahun, memberikan sinyal adanya stabilitas di pasar tenaga kerja.
(bbn)






























