Logo Bloomberg Technoz

Akibatnya risiko ini berpotensi meningkat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi dan biaya logistik seperti transportasi dan manufaktur serta sektor yang bergantung terhadap bahan baku impor.

Selain itu juga tekanan terhadap daya beli juga, kata Dian dapat meningkatkan risiko kredit pada segmen UMKM dan konsumsi yang memberikan sensitifitas lebih tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi. 

"Dan dalam kondisi tersebut bank juga cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit sehingga dapat mempengaruhi dinamika pertumbuhan kredit ke depannya," jelas Dian.

"Nah namun demikian tentu di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut sebenarnya ketahanan perbankaan Indonesia itu tergolong sangat kuat," sambungnya. 

Sebagai catatan saja, OJK melaporkan kinerja pertumbuhan kredit pada Februari 2026 tercatat 9,37% menjadi Rp8.559 triliun secara tahunan atau year-on-year (YoY). Persentase pertumbuhannya melambat dibanding pada posisi Januari 2026 yang tumbuh 9,96%.  

Sementara itu, liquidity coverage ratio atau LCR berada di level 195,64%. Sementara itu, kualitas kredit juga tetap terjaga dengan pertumubuhan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) sebesar 2,17%, berbanding Januari sebesar 2,14% dan NPL net sebesar 0,83%, berbanding Januari, 0,82%. Sementara itu, loan at risk atau LAR tercatat sebesar 9,24%, berbanding Januari, 9,01%.

Stress Test Berkala 

Sejalan dengan catatan Dian tersebut, ia meminta kepada industri perbankan untuk secara rutin melakukan stress test secara mandiri dengan tujuan untuk mengukur ketahanan modal bank dalam menghadapi berbagai guncangan makroekonomi ekstrem.

"Kemudian hasil stress test OJK maupun perbankan itu menunjukkan sejauh ini ya teman-teman sekalian bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia," pungkasnya. 

(lav)

No more pages