“Pertamina NRE memandang kolaborasi ini sebagai platform untuk memperkuat kapabilitas teknis dan institusional melalui knowledge exchange yang terstruktur,” ungkap Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, dalam siaran pers yang sama.
“Dengan mengedepankan studi bersama, pelatihan, serta pertukaran keahlian, kami optimistis dapat mempercepat pengembangan ekosistem bioetanol yang adaptif dan berkelanjutan di Indonesia,” lanjut dia.
Kerja sama ini juga turut mendorong pengembangan kapasitas domestik melalui adopsi teknologi, optimalisasi operasional, serta peningkatan pemahaman terhadap pengelolaan produksi dan diversifikasi bahan baku bioetanol.
Di sisi lain, Pertamina NRE dan USGBC juga akan memfasilitasi dialog dan pertukaran pengetahuan terkait pengembangan pasar, kerangka keberlanjutan, serta strategi komunikasi publik dalam mendukung implementasi bahan bakar berbasis campuran etanol.
“MoU ini bukan sekadar kesepakatan formal, tetapi merupakan platform implementasi. Melalui kemitraan ini, kami akan berfokus pada pertukaran pengetahuan dalam produksi dan rantai pasok etanol, penguatan aspek teknis dan pengembangan pasar, serta mendukung kesiapan Indonesia dalam pengembangan bahan bakar berbasis etanol,” ujar Chairman USGBC, Mark Wilson.
US Grains & BioProducts Council (USGBC) merupakan organisasi nirlaba internasional yang mewakili produsen dan pemangku kepentingan industri biji-bijian serta produk bio berbasis pertanian.
USGBC berfokus pada pengembangan pasar melalui edukasi, advokasi, serta fasilitasi kerja sama dan pertukaran pengetahuan, termasuk penyediaan asistensi teknis, pelatihan, dan promosi praktik untuk mendukung pemanfaatan produk berbasis bio secara berkelanjutan.
Sekadar catatan, Indonesia diwajibkan untuk tidak memiliki kebijakan yang menghalangi impor bioetanol asal AS, sebagai bagian dari kesepakatan tarif resiprokal antarkedua negara.
Dengan begitu, peluang impor bioetanol dari negeri Paman Sam kini makin terbuka lebar pada saat pemerintah berkeinginan untuk menerapkan mandatori bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.
Hal tersebut tertuang dalam dokumen kesepakatan perundingan tarif resiprokal Indonesia dan AS, yang baru saja dirilis oleh White House di Washington D.C. pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
“Indonesia tidak akan mengadopsi atau mempertahankan kebijakan apapun yang menghalangi impor bioetanol dari Amerika Serikat,” tulis dokumen yang dirilis White House, Jumat (20/2/2026).
Selain itu, disepakati juga bahwa Indonesia akan menerapkan mandatori campuran bensin dengan bioetanol 5% atau E5 pada 2028, kemudian mandatori E10 diupayakan dilakukan pada 2030.
Kemudian, Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan campuran bioetanol dalam bensin tersebut hingga 20% atau E20.
Hal tersebut akan dilakukan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung.
“Indonesia akan berupaya menerapkan kebijakannya mengenai penggunaan campuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi hingga 20% bioetanol [E20], tergantung pada ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung,” tulis White House.
(lav)



























