“Menahan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya adalah kebijakan yang tidak lazim karena selisih antara harga jual dengan estimasi harga keekonomian sudah relatif melebar dan ini akan ditanggung langsung oleh Pertamina,” kata Ishak ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Untuk produk Pertamax saja, dengan konsumsi nasional sekitar 21,6 juta per hari, Ishak memprediksi Pertamina bakal menanggung selisih harga keekonomian dan harga jual sekitar Rp120 miliar per hari atau sekitar Rp3,6 triliun.
Dia menyatakan besaran tersebut belum memerhitungkan harga BBM nonsubsidi lainnya, antara lain; Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Untuk itu, dia menyarankan agar pemerintah hanya mempertahankan harga BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Solar untuk melindungi masyarakat kurang mampu.
Sementara itu, untuk harga BBM nonsubsidi, diharapkan dapat naik secara bertahap dan terukur mengikuti mekanisme harga pasar.
“Memang ada potensi migrasi konsumen Pertamax ke Pertalite yang bisa mengancam jebolnya kuota subsidi, sehingga perlu diimbangi dengan pengetatan akses BBM subsidi melalui sistem QR dan pembatasan berdasarkan kapasitas mesin kendaraan,” tegas Ishak.
Solusi Sementara
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memandang kebijakan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan nonsubsidi hanya bakal meredakan gejolak inflasi sementara, tetapi dapat berbahaya bagi anggaran negara.
Bhima menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bakal kesulitan menanggung selisih harga minyak dunia yang sudah melonjak di atas US$100/barel, terlebih asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan di level US$70/barel.
Untuk itu, dia menyarankan agar pemerintah segera melakukan realokasi anggaran dari program-program yang memiliki anggaran jumbo seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk menambal kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.
“Kalau yang dikorbankan adalah pelebaran defisit di atas 3% misalnya lewat Perppu, maka rupiah bisa melemah bahkan sudden shock. Investor akan melihat naiknya defisit sebagai alarm kondisi fiskal yang tertekan dan penurunan harga surat utang pemerintah,” papar Bhima.
Adapun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan beban subsidi dalam APBN bertambah hingga Rp100 triliun gegara keputusan menahan kenaikan harga BBM di tengah melonjaknya harga minyak dunia.
“[Anggaran subsidi nambah] Rp90 triliun—Rp100 triliun. Itu subsidi, kompensasi lain lagi,” kata Purbaya ditemui di kantor Danantara, Rabu (1/4/2026).
Dengan demikian, alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 sejumlah RpRp381,3 triliun bisa bertambah menjadi Rp481,3 triliun.
Di sisi lain, Purbaya mengungkapkan PT Pertamina (Persero) sementara waktu bakal menanggung selisih harga jual dan harga keekonomian BBM nonsubsidi seperti Pertamax series dan Dex series, ketika memutuskan menahan harga jual per 1 April 2026.
Purbaya mengklaim Pertamina memiliki keuangan yang sehat dan cukup mampu untuk menanggung selisih harga jual BBM nonsubsidi dengan harga keekonomiannya.
“Sementara sepertinya [ditanggung] Pertamina, sementara ya. Dia mampu karena sekarang dari pemerintah kan lancar [pembayaran kompensasinya]. Kompensasi kan sekarang kita bayar setiap bulan 70% terus-terusan,” kata Purbaya.
Sekadar informasi, Pertamina resmi tidak menyesuaikan seluruh harga BBM, baik jenis subsidi dan nonsubsidi per 1 April 2026.
Harga BBM Pertamax (RON 92) di Jabodetabek bulan sebelumnya Rp12.300/liter kini tetap Rp12.300/liter. Harga Pertamax Turbo (RON 98) saat ini tetap dipatok sebesar Rp13.100/liter atau tidak mengalami kenaikan atau penurunan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Begitu juga dengan Pertamax Green, tetap dihargai Rp12.000/liter atau tidak mengalami penyesuaian harga.
Tidak hanya itu, harga bensin bersubsidi yakni Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite—yang menggunakan skema kompensasi — masih ditahan pemerintah di level Rp10.000/liter.
Untuk harga BBM jenis solar, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama tidak mengalami penyesuaian harga sehingga masing-masing dibanderol Rp14.200/liter dan Rp14.500/liter.
Harga BBM jenis solar bersubsidi yakni Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar juga tetap ditahan pemerintah di harga Rp6.800/liter.
(azr/wdh)

























