Logo Bloomberg Technoz

Rupiah yang menguat lebih terbatas di tengah penguatan mata uang kawasan hari ini justru menjadi sinyal yang lebih mengkhawatirkan. Artinya, ada faktor domestik yang membuat Indonesia terlihat lebih rentan dibandingkan negara peers-nya. Termasuk, tekanan fiskal yang selama ini jadi perhatian pelaku pasar. 

Tekanan harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi, jauh di atas asumsi APBN, berpotensi memperlebar defisit fiskal melalui neraca perdagangan migas. Indonesia, yang masih menjadi net importir minyak, harus menanggung beban impor energi yang membengkak. Ini secara langsung memperlebar defisit transaksi berjalan atau setidaknya memangkas surplus yang selama ini menjadi penopang stabilitas rupiah.

Laporan dari Bloomberg Economics memperkuat kekhawatiran itu. Perlambatan inflasi Indonesia pada Maret diperkirakan hanya bersifat sementara. Jika gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah berlanjut, tekanan harga akan kembali meningkat. Dengan harga minyak mentah bertahan di atas US$80 per barel, tekanan ke harga konsumen menjadi semakin signifikan.

Inflasi utama (headline inflation) bahkan diproyeksikan akan menembus batas atas target Bank Indonesia pada April, kecuali terjadi penurunan tajam harga minyak. Pemerintah memang dapat meredam sebagian dampak melalui kebijakan—seperti subsidi atau pengendalian harga—namun tidak akan sepenuhnya menghilangkan tekanan tersebut.

Data terakhir menunjukkan inflasi tahunan Maret berada di 3,48%, lebih rendah dari 4,76% pada Februari. Namun, penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh efek basis, terutama karena tahun lalu pemerintah sempat memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% untuk beberapa kelompok rumah tangga. Artinya, penurunan inflasi ini bukan cerminan dari meredanya tekanan fundamental.

Lebih jauh, inflasi inti tercatat 2,52%, masih dalam kisaran target dan bahkan sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya. Ini menegaskan bahwa permintaan domestik sebenarnya sedang melemah, kondisi ini mengirim sinyal yang konsisten dengan perlambatan konsumsi dan kredit seperti yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada Jumat pekan lalu.

Level Rp17.000/US$ yang sempat ditembus hari ini agaknya sudah bukan sekadar angka psikologis lagi. Lebih dari itu, level ini jadi penanda bahwa pasar sedang menguji batas rupiah yang selama ini mampu bergerak defensif. 

BI kemungkinan masih akan terus berada di garis depan melalui intervensi di pasar valas dan obligasi. Namun, ruang untuk manuver moneter punya batasnya. Menahan rupiah dengan cadangan devisa tanpa perbaikan fundamental sekadar solusi sementara.

Lebih dari itu, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan fiskal tetap kredibel, terutama dalam mengelola risiko dari lonjakan harga energi. Sepertinya pasar akan mencermati kondisi fiskal lebih lanjut dengan dampak dari kenaikan harga minyak mentah yang terjadi, sebab pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$100 per barel.  

(dsp)

No more pages