Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026, di antaranya tarif angkutan udara dan emas perhiasan, masing-masing sebesar 0,03%.
Berdasarkan komponen, inflasi pada Maret 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,27%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging sapi.
Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng dan nasi dengan lauk.
Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah memberikan andil inflasi sebesar 0,06%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 34 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 4 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 2,57%. Adapun deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,75%.
BPS secara khusus melaporkan inflasi kelompok transportasi pada momentum lebaran. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, selalu terjadi inflasi di setiap momen Ramadan dan Lebaran, kecuali pada 2025.
“Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi terhadap umum masing-masing 0,04% dan 0,03%,” jelas Ateng.
Ia melanjutkan bahwa tarif angkutan udara menjadi peredam inflasi pada kelompok ini dengan andil deflasi terhadap umum sebesar 0,03%.
(lav)





























