Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak sawit acuan melonjak hingga 1,9% di Kuala Lumpur pada Rabu (1/4/2026), mencapai level tertinggi sejak 2024, sebelum kemudian turun.

Langkah Indonesia ini menandai perubahan tajam dari Januari, ketika para pejabat mengatakan negara akan mempertahankan rasio pencampuran wajib saat ini sebesar 40% (B40) hingga 2026 untuk memberi waktu lebih banyak kepada para pembuat kebijakan untuk membangun infrastruktur dan menghitung biaya transisi ke mandatori yang lebih tinggi.

“Dorongan baru ini kemungkinan didorong oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global di tengah perang AS-Israel dengan Iran, harga minyak mentah yang tinggi yang mendorong solar diperdagangkan dengan harga premium dibandingkan dengan minyak sawit, dan upaya Indonesia untuk memperkuat keamanan energi,” menurut Ivy Ng, kepala riset dan agribisnis Malaysia di CIMB Securities.

Pergerakan spread CPO terhadap solar./dok. Bloomberg

Perang telah memaksa para pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk melindungi perekonomian dari kenaikan biaya bahan bakar dan kekurangan pasokan, dengan beberapa negara mempercepat program energi alternatif.

Thailand mengatakan pada Maret bahwa mereka akan meningkatkan campuran biofuel-nya menjadi 7%, dari 5% saat ini, dalam upaya untuk mengurangi impor minyak mentah.

Pekan lalu, Amerika Serikat (AS) juga meluncurkan aturan pencampuran yang telah lama ditunggu-tunggu yang akan mengharuskan kilang untuk mencampur sejumlah besar biofuel ke dalam solar dan bensin konvensional tahun ini.

Meskipun perubahan ini dapat membantu mengurangi biaya energi bagi konsumen, hal ini berisiko memicu inflasi pangan secara bersamaan, karena minyak goreng merupakan bagian penting dari pola makan global.

Indeks harga minyak nabati bulanan PBB mencapai titik tertinggi sejak 2022 pada Februari.

Mandat yang lebih tinggi merupakan "faktor positif struktural" untuk harga minyak sawit mentah, berpotensi menambah permintaan hingga 4 juta ton per tahun dan membatasi ketersediaan ekspor, kata Ng dalam sebuah catatan.

CIMB menaikkan perkiraan harga rata-rata minyak sawit pada 2026 menjadi 4.400 ringgit (US$1.091) per ton dari 4.000 ringgit, dengan potensi dampak cuaca El Nino akhir tahun ini juga makin membatasi produksi.

Namun, Indonesia belum merilis detail lebih lanjut tentang bagaimana B50 akan diimplementasikan begitu cepat.

Seorang pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengatakan uji jalan pada kendaraan, kereta api, dan mesin pertanian masih berlangsung.

Melonjaknya biaya metanol akibat perang di Iran, alkohol yang merupakan kunci dalam produksi biodiesel, juga dapat menjadi hambatan.

“Mengingat harga metanol yang lebih tinggi saat ini, pemerintah mungkin perlu mengubah formula penetapan harga untuk biodiesel untuk memberi insentif kepada para pelaku industri agar meningkatkan produksi,” kata analis RHB Investment Bank, Hoe Lee Leng, dalam sebuah catatan.

(bbn)

No more pages