“Dengan basis itu, selisih US$6 berarti tambahan tekanan sekitar Rp30,8 triliun pada subsidi BBM bila harga eceran ditahan dan parameter lain dianggap tetap,” kata Syafruddin ketika dihubungi, Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan jika yang dihitung merupakan dampak bersih ke APBN setelah memasukkan tambahan penerimaan dari hulu minyak dan gas (migas) dan kenaikan subsidi gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG), dan listrik; sensitivitasnya diperkirakan sekitar Rp6,7 triliun per US$1/barel.
“Sehingga tekanan total ke fiskal bisa mendekati Rp40,2 triliun untuk selisih US$6,” terang Syafruddin.
Sekadar informasi, PT Pertamina (Persero) resmi tidak menyesuaikan seluruh bahan bakar minyak (BBM), baik jenis subsidi dan nonsubsidi per 1 April 2026.
Harga BBM Pertamax (RON 92) di Jabodetabek bulan sebelumnya Rp12.300/liter kini tetap Rp12.300/liter. Harga Pertamax Turbo (RON 98) saat ini tetap dipatok sebesar Rp13.100/liter atau tidak mengalami kenaikan atau penurunan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Begitu juga dengan Pertamax Green, tetap dihargai Rp12.000/liter atau tidak mengalami penyesuaian harga.
Tidak hanya itu, harga bensin atau gasoline bersubsidi yakni JBKP Pertalite—yang menggunakan skema kompensasi — masih ditahan pemerintah di level Rp10.000/liter.
Untuk harga BBM jenis solar, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama tidak mengalami penyesuaian harga sehingga masing-masing dibanderol Rp14.200/liter dan Rp14.500/liter.
Harga BBM jenis solar atau diesel atau gasoil bersubsidi yakni Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar juga tetap ditahan pemerintah di harga Rp6.800/liter.
Terkait dengan penetapan harga BBM periode April 2026, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan perseroan senantiasa melaksanakan kebijakan pemerintah, termasuk dalam hal penetapan harga BBM.
Di sisi lain, Roberth menyatakan perseroan bakal melakukan berbagai upaya strategis seperti negosiasi dengan penyuplai dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat
“Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dengan mengikuti arahan kebijakan Pemerintah untuk tidak ada penyesuaian harga BBM, baik nonsubsidi maupun bbm bersubsidi,” kata Roberth dalam keterangan resminya.
Adapun, anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp381,3 triliun. Dari sisi volume, kuota JBKP Pertalite ditetapkan 29,26 juta kiloliter (kl) atau turun 6,28% dari tahun lalu.
Sekadar catatan, Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$102,23/barel pada pukul 6:52 pagi ini di Singapura. Sementara itu, harga Brent untuk penyelesaian Juni ditutup turun 3,2% menjadi US$103,97/barel pada Selasa.
(azr/wdh)




























