Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Lalu Merah
Tim Riset Bloomberg Technoz
31 March 2026 09:34

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka hari ini dengan tekanan yang belum mereda dan bergerak melemah, melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak perang pecah antara AS-Israel dan Iran.
Pagi ini, Selasa (31/3/2026), rupiah dibuka menguat tipis hampir stagnan 0,01% di posisi Rp16.990/US$, setelah kemarin melemah 0,16% kala penutupan. Namun beberapa saat kemudian, mata uang Nusantara berbalik melemah tipis 0,02%.
Lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah terganggunya jalur distribusi Selat Hormuz, menjadi penyebab utama pelemahan mata uang di kawasan Asia. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama juga masih bertahan di level 100,36 menandakan masih kuatnya pengaruh dolar sebagai aset safe haven di saat ketidakpastian melanda seperti saat ini.
Meski begitu, pagi ini beberapa mata uang Asia bergerak secara beragam. Dari zona hijau peso Filipina, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, ringgit Malaysia, sedikit mengalami penguatan. Sementara, won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan yen Jepang melemah.
Bagi rupiah, kenaikan harga minyak bukan sekadar efek limpahan, tapi bisa jadi beban bagi neraca eksternal. Harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,4% menjadi lebih dari US$106/US$ per barel, sementara Brent dibanderol US$112 per barel. Padahal asumsi harga yang dipasang dalam APBN 2026 berada di level US$70 per barel.































