Pergerakan rupiah yang masih cenderung defensif disebabkan oleh tekanan kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal masih belum reda. Lonjakan harga minyak dapat berdampak langsung pada anggaran negara, terlebih adanya skema subsidi yang menopang sebagian biaya belanja energi.
Di sisi lain, struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi domestik membuat tekanan eksternal seperti kenaikan harga energi bisa berdampak ganda. Sebab, kenaikan harga energi tidak cuma menekan dari sisi fiskal, tapi juga menggerus daya beli masyarakat.
Beredar rumor bahwa kenaikan bahan bakar minyak jenis Pertamax akan naik hingga Rp17.850/liter meski belum dikonfirmasi oleh otoritas terkait. Kenaikan harga BBM hampir pasti dapat menggerus ruang konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi domestik.
Agaknya tekanan terhadap rupiah saat ini bukan hanya datang dari gejolak eksternal seperti harga minyak, tetapi juga adanya kerentanan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Ketika harga minyak melonjak, dengan cepat merambat dari neraca eksternal ke ketahanan fiskal, dan pada akhirnya berisiko menghantam daya beli dan konsumsi domestik.
(dsp/aji)



























