Dalam catatan EIA, Israel mengonsumsi minyak mentah sekitar 240.000 barel per hari (bph) yang seluruhnya dipenuhi melalui impor. Sebagian besar impor yang dilakukan merupakan minyak mentah.
Kala itu, EIA mencatat Israel memiliki dua kilang minyak dengan kapasitas gabungan hampir 300.000 bph; kilang Haifa dengan kapasitas produksi 197.000 bph, dan kilang Ashdod sekitar 100.000 bph.
Berdasarkan data Kpler yang dihimpun Bloomberg, sejak pertengahan Mei 2022 Israel mengimpor minyak mentah sekitar 220.000 bph.
Pada 2022, tercatat Kazakhstan memasok sekitar 92.500 bph minyak mentah ke Israel. Kemudian, Azerbaijan memasok sekitar 44.000 bph minyak mentah ke negara tersebut.
Selanjutnya, Israel tercatat mengimpor sekitar 59.300 bph minyak mentah dari Afrika Barat pada 2022. Selanjutnya, sekitar 9.200 bph minyak mentah diimpor dari Mesir. Sementara sekitar 3.300 bph minyak mentah diimpor dari negara lainnya.
Gas Alam
Di sisi lain, Israel merupakan negara pengimpor gas alam yang sebagian besar kebutuhannya dipenuhi melalui pipa Arish-Ashkelon dari Mesir, serta sebagian kecil dari impor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melalui terminal regasifikasi terapung yang dipasang pada 2013.
EIA melaporkan penemuan ladang gas alam yang terjadi pada 2012 bakal mencukupi kebutuhan domestik Israel yang terus meningkat dan sumber daya gas tambahan kemungkinan akan diekspor.
Pada 2015, Israel mengonsumsi 297 miliar kaki kubik (bcf) gas alam, hampir seluruhnya dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Pada akhir 2015, Israel memiliki cadangan gas alam yang terbukti sebesar 7 triliun kaki kubik (tcf).
“Eksplorasi energi selama beberapa tahun terakhir telah mengungkap sumber daya gas alam yang signifikan di Israel, terutama di wilayah lepas pantai negara tersebut,” tulis EIA dalam laporannya.
Listrik
EIA mencatat penggunaan batu bara sebagai sumber utama pembangkit listrik terus mengalami penurunan, seiring dengan pesatnya pertumbuhan sektor gas alam negara tersebut.
Dengan begitu, pembangkit listrik berbahan bakar gas alam menggantikan kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
“Pada 2016, gas alam dari ladang Tamar memasok lebih dari setengah kebutuhan listrik Israel,” tulis EIA.
Sekadar informasi, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, resmi terlibat dalam perang Timur Tengah.
Situasi ini diperparah dengan tibanya lebih banyak pasukan AS di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi besar serta guncangan lanjutan di pasar energi.
Perang yang dimulai dari serangan pada 28 Februari 2026 tersebut sudah menyebabkan kekacauan di jalur nadi perdagangan minyak dan gas (migas) dunia setelah Republik Islam Iran resmi menutup akses Selat Hormuz di Teluk Persia.
Bagi perekonomian global, konflik Timur Tengah yang terjadi kali ini langsung memicu kenaikan harga minyak. Iran sendiri merupakan produsen minyak yang berkontribusi sekitar 5% pasokan minyak mentah dunia.
Selain itu, sekitar 20% aliran minyak global melewati Selat Hormuz yang berada tepat di 'halaman rumah' Iran.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 2,2% menjadi US$105,14/barel pada Selasa (31/3/2026) pukul 08.45 di Singapura. Sementara itu, Brent untuk penyelesaian Mei naik 1,9% menjadi US$114,92/barel. Kontrak Juni yang lebih aktif naik menjadi US$109,20/barel.
(azr/wdh)

























