Serangan-serangan ini—satu terjadi di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr dan lainnya di dekat Bani Hayyan—berlangsung saat Israel menggencarkan pengejaran terhadap militan Hizbullah. Konflik ini merupakan bagian dari perang yang lebih luas antara AS-Israel melawan Iran yang kini baru saja memasuki bulan kedua.
Lebih dari 1.200 orang telah tewas sejak Israel menginvasi Lebanon selatan, dan lebih dari 1 juta orang terpaksa mengungsi.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan hari Minggu melalui unggahan di media sosial X, sesaat sebelum laporan kematian dua personel lainnya muncul. "Ini hanyalah satu dari sekian banyak insiden baru-baru ini yang membahayakan keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian," tulis Guterres.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot secara terang-terangan menyalahkan Israel atas rentetan serangan tersebut. Ia menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menyusul "insiden yang sangat serius" pada hari Senin.
“Pelanggaran keamanan dan intimidasi oleh tentara Israel terhadap personel PBB adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan,” tegas Barrot melalui akun X miliknya. "Kecaman ini telah disampaikan langsung kepada Duta Besar Israel di Paris."
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan membahas serangan terhadap personel PBB di Lebanon pada Selasa pagi waktu New York. Namun, pihak Israel tetap pada pendiriannya.
“Tanggung jawab atas situasi di Lebanon selatan sepenuhnya berada di tangan Hizbullah, yang terus mengubah wilayah tersebut menjadi medan perang,” ujar Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dalam sebuah pernyataan resmi. “Israel akan terus bertindak tegas untuk melindungi warga negaranya dari ancaman apa pun di perbatasan utara.”
(bbn)



























