Pesan yang saling bertentangan antara AS dan Iran menciptakan efek ketidakpastian bagi para pelaku pasar. Alhasil, pelaku pasar mencoba mengurangi risiko dan menjaga nilai investasi mereka dengan berburu aset safe haven.
Harga minyak yang kembali naik memperburuk posisi negara-negara di kawasan yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Bagi Indonesia, meski ketergantungannya relatif lebih rendah dibanding negara di kawasan, kondisi ini berisiko menekan neraca perdagangan dan memperbesar beban impor energi.
Tekanan ini kemudian dapat merembet ke stabilitas nilai tukar. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi, dan pada akhirnya dapat membatas ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Intervensi Moneter
Di sisi lain, pergerakan rupiah di pasar offshore cenderung defensif dan menunjukkan bias pelemahan. Sepertinya pelaku pasar masih selektif dalam mengalirkan modal di pasar emerging markets.
Dalam kondisi seperti sekarang, intervensi Bank Indonesia (BI) jadi instrumen penting untuk meredam volatilitas jangka pendek. Setelah melakukan penerbitan SRBI yang melonjak 20 kali lipat menjadi Rp3,6 triliun pada Rabu (25/3/2026), kemarin (26/3/2026) BI kembali melakukan operasi valas.
Melalui lelang term deposit valas, BI menyerap likuiditas sebesar US$10,39 miliar dengan suku bunga 3%. Sementara pada instrumen FX swap, total volume yang terserap relatif terbatas, hanya US$80 juta. Distribusinya juga cenderung tidak merata, dengan mayoritas pada tenor 6 bulan sebesar US$55 juta, dan 1 bulan US$15 juta, sementara tenor 3 bulan tidak mencatatkan permintaan.
Di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi yang tercatat untuk tenor 1 bulan volumenya sebesar US$60 juta pada level Rp16.926/US$, sedangkan tenor 3 bulan tak mencatat adanya penawaran masuk.
Intervensi BI beberapa waktu terakhir ini memperlihatkan bahwa kondisi rupiah yang cenderung defensif masih bergantung pada peran otoritas moneter. Secara likuiditas memang masih relatif terjaga, namun terlihat bahwa minat investor di pasar domestik belum cukup kuat untuk menopang penguatan yang lebih solid.
Dengan kondisi yang ada, pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan masih akan berada dalam rentang terbatas dengan bias melemah di rentang Rp16.900-Rp17.000/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali melemah, dibayangi sejumlah sentimen yang kurang positif, dengan target pelemahan menuju level Rp16.940/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.980/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah lanjutan menembus level Rp17.000/US$ sebagai support paling terkuatnya.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada rentang Rp16.850/US$ hingga selanjutnya Rp16.800/US$.
(dsp/aji)




























