Di sisi lain, lanjut Wahyu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi yang diklaim Trump. Dia mencatat, Iran justru melihat langkah ini sebagai taktik AS untuk menekan harga energi sekaligus mengulur waktu untuk persiapan militer lebih lanjut.
“Langkah ini meredakan gejolak hanya dalam jangka sangat pendek sebagai bentuk ‘pendinginan’ harga. Namun, tanpa adanya gencatan senjata yang diverifikasi oleh kedua belah pihak, pasar akan tetap berada dalam fase high volatility,” kata Wahyu ketika dihubungi, Kamis (26/3/2026).
Selain itu, Wahyu memandang langkah Trump tersebut bertujuan untuk membuka kembali jalur perdagangan migas global di Selat Hormuz.
Akan tetapi, dia memandang selama Iran masih merasa terancam dan tidak mengakui kesepakatan de-eskalasi maka blokade tersebut diprediksi tetap terjadi.
“Selama status Selat Hormuz belum jelas dan laporan serangan tetap muncul, minyak akan tetap menjadi komoditas yang sangat spekulatif,” ungkapnya.
Dihubungi secara terpisah, analis komoditas dan Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo berpendapat langkah Trump menunda serangan ke Iran selama lima hari tersebut hanya bakal meredakan gejolak pasar migas global untuk jangka pendek.
Secara psikologis, kata Sutopo, pengumuman tersebut berfungsi sebagai pemutus kepanikan bagi pasar. Terlebih, terjadi penurunan harga minyak global ke level US$101—US$102 per barel usai harga minyak menembus US$119/barel.
“Secara umum, kita dapat menyimpulkan bahwa langkah ini bukanlah sebuah solusi permanen, melainkan sebuah ‘gencatan senjata naratif’. Langkah Trump berhasil meredakan gejolak sesaat dengan menurunkan suhu spekulasi,” kata Sutopo ketika dihubungi, Kamis (26/3/2026).
Meskipun terjadi penurunan harga, dia memprediksi efek tersebut hanya bertahan sementara sebab klaim Trump terjadinya negosiasi dengan Iran dibantah langsung oleh Tehran.
“Bagi pasar, ketidakpastian informasi adalah racun. Jika investor merasa narasi ini hanyalah taktik untuk ‘membeli waktu’ bagi persiapan militer, maka volatilitas akan kembali meledak saat tenggat waktu berakhir,” tegasnya.
Dengan begitu, dia memandang selama jalur perdagangan migas di Selat Hormuz ditutup dan serangan militer masih berlangsung maka pasar bakal tetap berada dalam posisi waspada.
“Pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap janji, tetapi terhadap aliran fisik minyak. Selama tanker belum bisa melintas dengan aman, stabilitas harga hanyalah fatamorgana di tengah gurun konflik,” ungkap Sutopo.
Pertempuran antara Iran dan aliansi AS–Israel terus berlanjut tanpa henti, meski Presiden Donald Trump mengklaim pembicaraan untuk mengakhiri konflik sedang berlangsung.
Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) semalam ke kota-kota Israel, Eilat, Dimona, dan Tel Aviv, serta pangkalan AS di Timur Tengah.
Arab Saudi mengatakan telah mencegat sebuah drone di wilayah timurnya, dan Kuwait mengatakan beberapa saluran listrik terputus setelah serangan Iran. Sirene berbunyi di Bahrain.
Sebaliknya, di Iran, kantor berita Fars melaporkan serangan AS-Israel yang merusak pabrik pengatur tekanan gas dan sebuah gedung administrasi di kota Isfahan di Iran tengah.
Ada juga serangan terhadap pipa yang memasok gas ke Pembangkit Listrik Siklus Gabungan Khorramshahr di Iran barat daya, menurut Fars.
Serangan terus berlanjut bahkan setelah Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran, dengan alasan "pembicaraan produktif" dengan Teheran.
Klaim Presiden AS tentang diplomasi di balik layar secara luas dibantah oleh pejabat Iran, menyebabkan kebingungan tentang peserta dalam pembicaraan dan parameter kesepakatan potensial.
Adapun, harga minyak naik seiring AS dan Iran mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan terkait dengan upaya untuk mengakhiri konflik yang telah menutup Selat Hormuz, menghambat produksi minyak mentah di sejumlah wilayah. Situasi terbaru juga mengakibatkan kekhawatiran akan krisis energi global.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 1,7% menjadi US$104/barel pada pukul 12:01 siang hari ini di Singapura. Kontrak Juni yang lebih aktif menguat 1,7% menjadi US$104,00/barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 1,6% menjadi US$91,76/barel.
(azr/wdh)



























