Dalam kesempatan itu, Bahlil juga mengungkapkan turut membahas percepatan pengembangan energi alternatif.
Dia menyatakan Prabowo memerintahkan agar seluruh potensi energi alternatif seperti biofuel atau bahan bakar nabati hingga energi baru terbarukan (EBT) dapat dikembangkan lebih cepat.
“Baik itu etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kita bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kita bisa kita lakukan,” tegasnya.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking empat proyek hilirisasi di sektor energi, dari total enam proyek hilirisasi yang diresmikan pada tahap awal.
Proyek hilirisasi pertama yakni fasilitas pengolahan dan pemurnian aluminium dan smelter grade alumina refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Selain itu, Danantara turut memulai proyek kilang bioavtur garapan Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 barel per hari atau sekitar 300.000 kiloliter (kl) per tahun.
Kilang tersebut bakal mengolah bioavtur dengan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, dan palm oil mill effluent (POME).
Proyek hilirisasi berikut yakni, pabrik Bioetanol Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas produksi bioetanol sebesar 30.000 kl per tahun.
Proyek hilirisasi berikutnya yakni, fasilitas integrated poultry atau budidaya unggas yang pada tahap awal berada di enam titik yakni, Malang, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Sumbawa.
Adapun, proyek hilirisasi unggas tersebut nantinya akan berada di 30 lokasi. Pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur terintegrasi tersebut sempat diklaim memiliki nilai investasi mencapai Rp20 triliun.
Proyek hilirisasi terakhir yakni pabrik Garam dan MVR di Gresik, Manyar dan Sampang, Madura. Serta, proyek garam olahan Segoro Madu II.
Proyek pabrik garam di Sampang memiliki kapasitas produksi sebesar 200 ribu ton per tahun dengan nilai investasi Rp2 triliun.
Sekadar catatan, nilai 18 proyek yang disodorkan Satgas Hilirisasi itu mencapai US$38,63 miliar atau sekitar Rp640,4 triliun (asumsi kurs Rp16.578 per dolar AS).
Dari 18 proyek yang diajukan, 8 di antaranya program hilirisasi di sektor mineral dan batu bara (minerba), masing-masing 2 proyek di sektor transisi dan ketahanan energi, dan masing-masing 3 proyek di sektor pertanian, kelautan dan perikanan.
Daftar 18 Proyek Prioritas Hilirisasi dan Ketahanan Energi:
Proyek Sektor Minerba:
1. Industri Smelter Aluminium (bauksit) Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp60 triliun.
2. Industri DME (batu bara) di Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, Banyuasin dengan nilai investasi Rp164 triliun.
3. Industri aspal di Buton, Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi Rp1,49 triliun.
4. Industri Mangan Sulfat di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nilai investasi Rp3,05 triliun.
5. Industri Stainless Steel Slab (nikel) di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan nilai investasi Rp38,4 Triliun.
6. Industri Copper Rod, Wire & Tube (katoda tembaga) di Gresik, Jawa Timur dengan nilai investasi Rp19,2 triliun.
7. Industri Besi Baja (pasir besi) di Kabupaten Sarmi, Papua dengan nilai investasi Rp19 triliun.
8. Industri Chemical Grade Alumina (bauksit) di Kendawangan, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp17,3 triliun.
Proyek Sektor Pertanian:
9. Industri Oleoresin (pala), di Kabupaten Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi Rp1,8 triliun.
10. Industri Oleofood (kelapa sawit) di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK) Rp3 triliun.
11. Industri Nata de Coco, Medium-Chain Triglycerides (MTC), Coconut Flour, Activated Carbon (kelapa) di Kawasan Industri Tenayan, Riau dengan nilai investasi Rp2,3 triliun.
Proyek Sektor Kelautan dan Perikanan:
12. Industri Chlor Alkali Plant (garam) di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, Banten, dan NTT dengan nilai transaksi Rp16 triliun.
13. Industri Fillet Tilapia (ikan tilapia) di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan nilai investasi Rp1 triliun.
14. Industri Carrageenan (rumput laut) di Kupang, NTT dengan nilai investasi sebesar Rp212 miliar.
Proyek Ketahanan Energi (Kilang 1 Juta Barel):
15. Kilang Minyak dengan nilai investasi sebesar Rp160 triliun.
16. Tangki Penyimpanan Minyak dengan nilai investasi sebesar Rp72 triliun.
Proyek tersebut tersebar di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak
Proyek Transisi Energi:
17. Modul Surya Terintegrasi (bauksit dan silika) di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah dengan nilai investasi Rp24 triliun.
18. Industri Bioavtur (used cooking oil) di KBN Marunda, Kawasan Industri CIkarang dan Kawasan Industri Karawang dengan nilai investasi Rp16 triliun.
(azr/wdh)






























