“Meskipun AS jelas-jelas sedang mencari jalan keluar, baik Iran maupun Israel tampaknya tidak tertarik pada penyelesaian yang cepat,” kata Philip Jones-Lux, analis pasar senior di Sparta Commodities. Ditambah lagi dengan pengiriman pasukan tambahan, “bagi saya, memperhitungkan penurunan ketegangan dalam harga saat ini masih terlalu dini,” ucap Jones-Lux.
Walau Trump belum mengumumkan rencananya, orang-orang yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa Pentagon telah memerintahkan pengerahan dua Unit Ekspedisi Marinir — yang terdiri dari sekitar 5.000 pasukan, plus pesawat terbang dan kendaraan pendaratan — ke wilayah tersebut. Pada hari Selasa, seseorang yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa Trump juga mengirimkan lebih dari 1.000 tentara dari Army’s 82nd Airborne Division.
Fokus utama para pedagang tetap pada selat tersebut, dengan lalu lintas melalui jalur yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global hanya sedikit. Kapal-kapal yang ingin melintas di bawah perlindungan Iran diminta untuk menyerahkan daftar awak dan muatan, serta rincian perjalanan untuk mendapatkan izin dari Korps Garda Revolusi Islam.
Parlemen Iran sedang mengerjakan calon regulasi guna “mengumpulkan bea sebagai imbalan atas penyediaan keamanan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz,” lapor kantor berita semi-resmi Fars, mengutip seorang anggota parlemen yang tidak disebutkan namanya. Proposal tersebut diperkirakan akan diselesaikan minggu depan, menurut laporan tersebut.
Seiring berlarutnya konflik, pemerintah di seluruh Asia bersiap menghadapi skenario terburuk yang mungkin mencakup gangguan pasokan yang berkepanjangan. Filipina mengumumkan keadaan darurat nasional, dengan alasan adanya “ancaman mendesak akan pasokan energi yang sangat rendah,” sementara Korea Selatan beralih ke mode krisis.
Di AS — di mana harga bahan bakar terus melonjak — pejabat pemerintah sedang mengkaji dampak potensial dari lonjakan harga minyak US$200 per barel terhadap perekonomian, menurut sumber yang mengetahui masalah ini, sebuah tanda bahwa staf senior sedang mempelajari dampak yang mungkin timbul dari skenario ekstrem.
Sementara itu, Washington juga mengumumkan penjadwalan ulang pertemuan puncak antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang akan berlangsung di Beijing pada 14-15 Mei. Pertemuan yang sangat dinantikan ini terjadi setelah penundaan yang menimbulkan ketidakpastian baru dalam hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia.
(bbn)




























