Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps.
Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Rabu (25/3/2026).
- Astra International (ASII) menyumbang 32,87 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang 26,38 poin
- Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 18,69 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 11,88 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 11,26 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 9,46 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 8,99 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 6,74 poin
- Bumi Resources (BUMI) menyumbang 5,21 poin
- Impack Pratama Industri (IMPC) menyumbang 5,03 poin
Adapun saham–saham LQ45 lainnya juga menjadi pendorong laju melesatnya IHSG, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melesat 8,59%, dan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga melesat di zona hijau dengan menguat 7,35%.
Adapun saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melesat 7,32%, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menguat 7,24%, dan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga menguat dengan terapresiasi 6,43%.
Disusul oleh penguatan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang menguat 5,54%, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melesat 5,29%, dan saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang mencetak penguatan 5,14%.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat.
Pada tutup perdagangan di pasar spot, US$1 setara dengan Rp16.910. Rupiah menguat 0,44% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga sempat menempati level terkuatnya mencapai Rp16.880/US$ pada perdagangan pagi tadi.
Penguatan rupiah hari ini menjadi yang terbesar di Asia, di posisi paling atas, pertama, yang kemudian disusul oleh Dollar Taiwan yang terapresiasi 0,33%, lalu South Korean Won yang menguat nilainya 0,16%, dan Dollar Hong Kong yang menguat 0,12%.
Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah. Pada perdagangan petang hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah di posisi terendahnya.
Rupiah dan mata uang Asia mampu menguat di tengah kelesuan dolar AS. Pada pukul 18:30 WIB, Dollar Index melemah 0,19% pada level 99,245.
Dolar AS lesu di tengah kabar de–eskalasi perang antara AS–Israel terhadap Iran, dan harga minyak dunia yang turun.
Sinyal diplomatik dari AS terkait upaya meredakan ketegangan dengan Iran menjadi katalis positif bagi penurunan harga minyak yang tengah berada di level US$97,83 per barel, harga minyak Brent tercatat turun 6,35% seperti data yang ditunjukkan Bloomberg pada 18:30 WIB.
Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan akan terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.
Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad)































