Kebijakan tersebut kemudian diperluas untuk mencakup negara-negara lain dan diperbarui untuk memungkinkan pembelian minyak mentah yang sudah berada di laut sebelum 12 Maret.
Negara Asia Selatan ini sangat bergantung pada impor minyak, dan menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia dengan harga diskon setelah invasi Ukraina pada awal 2022.
Namun, India secara tajam mengurangi pembelian sejak akhir tahun lalu di bawah tekanan AS, dan beralih ke minyak mentah dari Arab Saudi dan Irak, yang sebagian besar kemudian terperangkap di Teluk Persia setelah pecahnya perang.
Para pejabat di New Delhi memperkirakan pengecualian AS akan diperpanjang selama gangguan di Hormuz masih berlanjut, kata sumber tersebut.
Kilang-kilang seperti Mangalore Refinery & Petrochemicals Ltd. dan Hindustan Mittal Energy Ltd., yang telah menghindari minyak Rusia sejak Desember, telah kembali ke pasar, kata mereka.
Selain membeli lebih banyak minyak Rusia, pengolah minyak India juga mencari alternatif lain untuk mendiversifikasi pasokan mereka karena perang terus berlanjut.
Pembelian minyak mentah Venezuela oleh negara itu untuk pengiriman bulan April diproyeksikan mencapai 8 juta barel, tertinggi sejak Oktober 2020, menurut Kpler.
Sementara itu, Rusia menuai keuntungan besar berkat peningkatan permintaan dan harga minyaknya yang tinggi.
Kremlin memperoleh pendapatan terbesar dari ekspor minyak mentahnya sejak Maret 2022, tak lama setelah pasukan Moskwa memasuki Ukraina.
(bbn)





























